Senin, 17 Desember 2007

0 Negeri Antah Berantah

        SUATU siang di kantor, saya pernah merenung (menghayal) di hadapan komputer yang biasa saya gunakan untuk bekerja. Saya membayangkan kehidupan 500 atau bahkan 1.000 tahun lalu di sebuah negeri entah berantah ketika manusia tidak mengenal bahan bakar minyak, air bersih dan listrik.

     Kereta kuda hilir mudik melalui jalan tanah. Jika kemarau sedikit berdebu, tapi tidak ada polusi. Saat musim hujan jalan berubah becek, tapi masih tetap bisa dijalani. Malah, setelah hujan reda, udara sangat segar. Cocok buat jalan-jalan sore.

     Di sungai ramai anak-anak mandi sambil bermain. Sementara ibu-ibu mereka menimba air ke dalam bak untuk persedian air minum. Jamban berderet rapi di pinggir sungai yang masih alami. Sungai seakan jadi rumah kedua. Sungguh mengherankan, mandi, cuci, kakus bisa dilakukan di satu tempat. Tapi tak seorang pun yang terkena diare.

     Saat siang berubah malam, suasana terasa romantis. Dari rumah-rumah yang mungil terlihat cahaya temaram dari suluh terbuat dari batok kelapa. Bahan bakarnya alami dari minyak kayu damar. Bau harum minyak damar menyengat hidung.

     Tak ada istilah krisis energi. Tiada yang merasa kekurangan air bersih. Tidak perlu repot antre untuk mendapatkan damar. Jalan becek atau berdebu jadi sesuatu yang lumra karena belum ada yang mengenal aspal.

     Tiba-tiba saya tersadar. Teriakan seorang teman yang merasa terganggu konsentrasi mengetiknya gara-gara aliran listrik padam, membawa saya kembali ke masa kini.

     Buru-buru saya beranjak ke toilet untuk cuci muka dan buang air kecil. Kantong kemih sudah terasa penuh. Saatnya dikuras kalau tidak ingin kena penyakit gangguan ginjal.

     Tapi saya mendapati toilet tidak ada air. Bau pesing menyengat hidung. Kran wastafel tidak mengeluarkan setetes pun air. Syaraf di otak kecil saya memberi alarm peringatan. Hari ini aliran air leding sedang tidak lancar. Kabarnya ada perbaikan pipa.

     Cuci muka saya batalkan. Setengah berlari saya masuk kembali ke ruang kerja redaksi. Tapi bukan meja kerja yang saya tuju, melainkan jendela di pojok ruangan.

     Pandangan saya tertuju pada antrean kendaraan roda dua dan empat untuk mendapatkan bahan bakar di sebuah SPBU. Barulah saat itu saya merasa benar-benar sadar. Saya hidup di tahun 2007 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tak berapa lama hujan mengguyur deras. Sebagian jalan pun tergenang air. 

Kamis, 13 Desember 2007

0 Korupsi Hanya Bacaan

    MINGGU 9 Oktober 2007 lalu, merupakan hari anti korupsi se-dunia. Namun gaung peringatannya berlalu begitu saja. Paling-paling demo di beberapa tempat yang dilakukan elemen masyarakat.
       Tidak ada greget politik yang menggairahkan usaha pemberantasan korupsi. Tidak ada aksi bersama secara masif untuk menunjukkan Indonesia tengah berperang melawan segala bentuk korupsi.
     Tidak hanya di Jakarta sebagai pusat negara, di daerah juga demikian. Di Kalimantan Selatan, institusi hukum seperti kejaksaan cuma melakukan aksi humanis dengan membagi-bagikan bunga kepada pengendara dan sejumlah instansi.
      Padahal, korupsi di negeri ini sudah sangat parah. Indonesia menempati peringkat kelima negara terkorup di dunia dari 146 negara. Tentu bukan sebuah prestasi yang membanggakan.
      Perjuangan untuk memberantas korupsi sudah dimulai sejak 2003, di Merida Meksiko saat digelar Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Anti Korupsi.
    Artinya, korupsi sudah dianggap penyakit dunia yang harus dihancurkan, dicegah dan diberantas oleh semua negara dan warga dunia termasuk Indonesia.
    Bahkan negara-negara yang terhitung bersih dari korupsi, negara-negara dimana sistim integrasi nasional sudah terbentuk lama sehingga korupsi tidak lagi punya tempat, juga sangat peduli dengan pencegahan dan pemberantasan korupsi.
    Tapi bagaimana fakta sebenarnya usaha pemberantasan korupsi di Indonesia? Jika masih berada pada peringkat lima besar negara terkorup, berarti korupsi masih jadi primadona di negeri ini.     
    Pemberantasan korupsi mungkin masih sebatas slogan kosong dituliskan di spanduk lalu dibentangkan. Hanya dibaca tapi usaha pemberantasan korupsi tidak dilaksanakan. Korupsi masih sekadar bahan bacaan bukan sebagai larangan yang harus ditaati.
    Berapa banyak kasus tindak pidana korupsi terdakwanya bisa lepas dari jerat hukum begitu tiba vonis hakim. Persidangan seperti sebuah dagelan manakala proses penyelidikan, penyidikan sampai persidangan yang makan waktu lama seakan tak berarti ketika terdakwanya bebas.
   Semakin banyak koruptor bebas dari hukum, semakin rendah tingkat kepercayaan, masyarakat terhadap peradilan di Indonesia.
    Padahal, korupsi adalah kejahatan luar biasa. Pemerintah Indonesia sampai merasa perlu membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memeranginya, selain melalui peradilan umum.
     KPK seakan jadi pelepas dahaga di tengah usaha pemberantasan korupsi di Indonesia yang stagnan. Saat peradilan umum tidak bisa menjerat para koruptor, KPK dengan kewenangannya mampu mengungkap kasus korupsi besar. Korupsi di KPU dibongkar. Gubernur, bupati atau mantan kepala daerah yang korup diseret ke meja peradilan tindak pidana korupsi.
    Sayang, usaha KPK untuk membangun kepercayaan publik bahwa masih ada institusi yang bersih dan tidak korup serta bisa berbuat positif untuk pemberantasan korupsi, menjadi lemah belakangan ini.
    Komisi hukum DPR memilih Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Antasari Azhar sebagai Ketua KPK menggantikan Taufiqurahman Ruki.
   Banyak pihak meragukan kapabilitas Antasari Azhar sebagai Ketua KPK karena track record-nya dinilai 'abu-abu'. Beberapa LSM yang tergabung dalam Koalisi Pemantau Peradilan (KPP), termasuk ICW, menilai ada dukungan kuat Komisi III terhadap Antasari melalui perbedaan perlakuan selama uji kelayakan dan kepatutan.
    Jika itu benar adanya, sungguh disayangkan, lembaga yang dibangun dengan tujuan mulia, dimanfaatkan untuk kepentingan politik sekelompok orang. Sepertinya, kita tidak menjauh dari korupsi, kita memilih hidup bersamanya.

Jumat, 30 November 2007

0 MENANGGUNG BEBAN WARISAN

    DUA peristiwa besar menyangkut Tentara Nasional Indonesia (TNI) terjadi hanya selisih 1 hari. Meski tidak ada kaitan secara langsung, tapi dapat ditarik benang merah antara dua perisitiwa yang sama-sama dialami anggota TNI.
    Selasa (29/5) Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso yang tengah mengunjungi negara bagian New South Wales, Australia, dikejutkan dengan kedatangan dua anggota polisi federal Australia ke Hotel Shangrila tempatnya menginap.
    Masuk tanpa izin menggunakan master key hotel, polisi menggeledah dan meminta Sutiyoso hadir ke pengadilan, sebagai saksi untuk kasus penyerbuan TNI ke markas komunis Balibo, Dili, 16 Oktober 1975. Dalam pertempuran itu, lima orang wartawan asing ikut tewas, termasuk wartawan Australia Brian Peters.
    Sutiyoso merupakan mantan anggota pasukan elit Tim Susi dibawah pimpian Yunus Yusfiah. Sampai saat ini, pihak keluarga kelima wartawan Australia itu menganggap, tim Susi adalah pihak yang harus bertanggungjawab.
    Kasus Balibo sendiri sudah dianggap selesai oleh pemerintah Australia dan kelima wartawan tersebut dianggap gugur dalam pertempuran. Namun, belakangan muncul bukti baru yang mengait-ngaitkan ada unsur kesengajaan dari TNI dalam insiden di bekas provinsi Indonesia tersebut.
    Sutiyoso tentu saja menolak. Bahkan dia mempercepat kunjungannya ke Australia sebagai bentuk protes perlakuan semena-mena polisi fedral Australia terhadap tamu negara yang memiliki kekebalan diplomatik.
    Sehari setelah penggerebekan polisi federal Australia terhadap Sutiyoso, Rabu (30/5) giliran marinir bikin sensasi. Empat warga Desa Alastelogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, tewas dan enam orang luka. Semuanya karena letusan peluru tajam milik TNI AL.
Ketegangan antara TNI AL dengan warga gara-gara sengketa lahan yang tidak kunjung selesai, hampir satu dasawarsa. Puncaknya terjadilah peristiwa berdarah tersebut.
    Jika dilihat secara menyeluruh, peristiwa yang dialami Sutiyoso di Australia maupun penembakan yang dilakukan Marinir di Pasuruan, semakin memperburuk citra TNI. Terlepas dari cara polisi federal Australia yang menyalahi aturan tentang diplomatik, di mata Australia, image TNI rupanya masih jelek. Artinya, di mata negara lain ada yang salah dengan TNI. Hampir setiap tamu negara yang datang ke Indonesia selalu menanyakan reformasi di tubuh TNI.
    Menteri pertahanan, Juwono Sudarsono, dalam suatu kesempatan menerima kunjungan Asisten Menlu AS Christopher Hill mengungkapkan, usaha perbaikan di tubuh TNI sudah dilakukan. Namun, ada beberapa persoalan terkait citra TNI di masa lalu yang belum terselesaikan, terutama yang berhubungan dengan masa-masa terakhir kekuasaan Soeharto yang menurut istilah Juwono sebagai beban warisan. Beban warisan inilah yang harus ditanggung TNI hingga sekarang. 

Minggu, 25 November 2007

0 Batu yang Membara

    BANJARMASIN memang bukan daerah penghasil batu bara. Tapi warganya ikut merasakan imbas eksploitasi 'emas hitam' itu. Sayangnya, lebih banyak negatif ketimbang positifnya bagi warga.
    Seperti namanya, batu bara artinya batu yang membara, di Banjarmasin, batu bara selalu jadi masalah 'membara' bagi warga kota. Mulai dari debu angkutannya, kecelakaan lalu lintas hingga dampak berdirinya stockpile di dekat kawasan permukiman.
     Coba kita kupas satu demi satu imbas batu bara bagi warga Kota Banjarmasin. Di Kelurahan Pelambuan, Banjarmasin Barat ada lima stockpile beroperasi di sepanjang Jalan 1,7 Km. Kualitas Jalan Pelambuan buruk. 
    Di beberapa bagian rusak, meski sudah direhabilitasi tetap kurang memuaskan. Jika hujan lebat, ratusan meter bisa berubah jadi kubangan.
     Pakar Mikrobiologi Universitas Lambung Mangkurat, Dr Ir H Sbdul Hadi MAgr dalam penelitiannya menyebutkan, debu batu bara di Pelambuan mengandung 27 logam berat.
     Jika setiap hari ada ratusan truk pengangkut batu bara keluar masuk kawasan itu, bisa dibayangkan berapa banyak logam berat yang terhisap warga setempat.
     Inpeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tentu jadi ancaman paling utama. Dampak terburuk debu batu bara adalah kematian karena usia harapan hidup orang yang terbiasa menghirup debu batu bara, diprediksi terkurangi antara lima sampai 10 tahun.
   Belum lagi soal angkutan batu bara yang hampir selalu menimbulkan konflik. Banyak sekali penolakan-penolakan dari warga yang jalan di kawasan tempat tinggalnya di lalui armada batu bara.
    Jika sopir dan warga saling bersikeras, tindakan anarkis tak terhindarkan. Tak jarang truk digulingkan warga yang kesal. Apalagi saat ada korban kecelakaan di jalan-jalan yang dilalui armada batu bara. Warga langsung menyemut di jalan, menghadang truk apa saja yang lewat.
     Batu bara memang bikin pusing, tidak hanya warga Banjarmasin, pemerintah kota juga merasakannya. Tapi semuanya berpulang pada Pemko sendiri. Mau bukti? sampai sekarang belum ada solusi tentang persoalan ini.
    Dari lima stockpile yang beroperasi, empat di antaranya izin HO-nya habis pada 2007. Satu lagi berakhir tahun 2009. Pemko masih belum bisa menentukan langkah selanjutnya apakah izin diperpanjang atau dihentikan. Wah, batu bara memang benar-benar membara ya! 

Jumat, 23 November 2007

2 Museum Asia Afrika




Museum Asia Afrika dari berbagai sudut. Bagi orang Bandung atau Jawa Barat, berada di dalam museum ini mungkin jadi hal yang biasa. Tapi bagi saya, di dalam museum ini sungguh luar biasa. Berada di dalam museum, seakan membawa imajinasi kita pada Konferensi Asia Afrika 18 April 1955. Konferensi Asia Afrika merupakan momen bersejarah bagi negara-negara Asia dan Afrika untuk bebas dari belenggu penjajah.
FOTO: ROYAN NAIMI

6 Action di Tangkuban Parahu




Kebetulan lagi di Jawa Barat, sekalian aja jalan-jalan ke Tangkuban Parahu. Enak euy, adem banget

3 Jukung Hias Khas Banjar






Lomba jukung hias merupakan salah satu agenda tahunan yang digelar untuk memperingati ulang tahun Kota Banjarmasin.
FOTO:AYA SUGIANTO

0 Puisi Jilid II

Dinda

Hapus airmatamu dinda
Jangan kau basahi pipimu yang ranum

Hatiku tak tega menyapa kesedihan

Biarkan angin menerbangkan gundahmu


Aku hadir sebagai takdir

Jadikan pelipur dahaga

Buat hatimu tertawa

Ku tak ingin kau terdera

Hapus air matamu dinda
Aku datang untuk cinta

Banjarmasin, 30 Januari 2007
Pkl. 02.04 Wita


Lentera

Temaram bagai kelam
Seruas cahaya bias di kegelapan
Hanya pijar di dalam pekat
Dikejar, tapi tetap bias

Adakah suluh lain di tengah padang kesunyian ini
Atau hanya dia pijar nan samar-samar
Oh..Lentera, biduk ingin berlabuh
Jauh….jauh dari terpaan gelombang
Lepas dari saputan angin

Lelah sudah melayari telaga warna ini
Rindu…rindu sangat matahari
Menerangi sudut-sudut hati yang membeku
Mekarkan bunga-bunga pewangi kalbu

Tapi jelaga masih menempel di lentera
Dan jemari masih sombong untuk membersihkan kaca
Matahari hanya sebatas angan
Pijar dia meredup sesaat kedipan mata

Banjarmasin, 23 November 2006
Pukul 23.48 Wita


Syukur Kuhaturkan

Bunga telah tumbuh
Bersemi di hamparan permadani hijau
Merah, kuning, ungu
Sejuk tenang

Gelisah sudah ditelan kesenangan
Beku menjadi cairan keniscayaan
Harapan menggunung melapisi gundah
Pasti atau tidak ditinggal jauh di belakang

Kapan fana ini dimulai
Jangan tanya akhir jika masih ingin tertawa
Atau kemudian larut dalam kelupaan
Masa selalu berubah setiap detakan nadi

Awal baik ini tak akan sia-sia
Harus diikat dengan rantai setia
Agar tak putus digerus prasangka
Tak lekang ditelan khilaf

Mungkinkah sama dengan lampau
Yakin dengan cocoknya hati
Janji melangkah bersama
Ternyata dipisahkan garis perbedaan

Semua memang masih samar
Jari masih susah meraba
Kepastian masih sebatas keinginan
Syukur tetap kuhaturkan

Banjarmasin, 30 Januari 2007
Pkl. 01:50 Wita


Wajah Dalam Cermin

Hari ini aku berdiri di depan cermin

Wajah berkeriput tersenyum kecut

Tiada senang, sangat dipaksakan

Ringkih penuh beban

Wajah berkeriput itu tergelak
Entah apa yang ada di benaknya
Mungkin bangga akan kerutan di keningnya
Pertanda hidup sudah dikuasainya

Dia masih tergelak
Namun bulir air mengalir dari matanya
Lalu dia tersedu-sedu
Tak nampak lagi senyum

Apa pula yang membuatnya menghiba
Toh dunia sudah di genggaman
Atau keriput yang jadi persoalan
Bukankah itu wajar seiring usia

Seakan  tahu dirinya ditanya
Wajah  itu mendongak
Romannya berubah angkuh
Tapi bulir air tak bisa berdusta
Ada sepenggal kisah di baliknya

Bukan keriput yang aku tangisi
Wajah dan tubuh ini hanya seonggok tulang dan daging
Dari tanah kembali ke tanah
Aku hanya lupa berkaca
Wajah itu lenyap dari cermin

Banjarmasin, 27 November 2006
Pukul 01.29 Wita


Di Suatu Masa

Di suatu masa ketika manusia tak lagi berbicara
Saat sungai berhenti mengalir ke muara
Muncul raja penghabisan
Memapah tubuh kuyu seorang wanita

Di suatu masa ketika manusia tak lagi bertanya
Bila tanah tak mampu menyembunyikan muka
Sang raja mencucurkan air mata
Menetes di tubuh wanita

Di suatu masa ketika manusia tak lagi berdusta
Waktu langit mulai tak bisa dipercaya
Raja menghiba sebisanya
Tapi wanita tetaplah wanita

Di suatu masa ketika manusia tak lagi menderita
Kala pepohonan malas mengembangkan daunnya
Raja bersujud di depan wanita
Semua sia-sia

Banjarmasin, 1 Desember 2006
Pukul 03.05 Wit
a

0 Tindak Tegas Penyeleweng

    BEBERAPA hari lalu, solar seakan hilang dari Kalimantan Selatan. Ratusan truk rela antre sejak subuh di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar demi mendapatkan bahan bakar yang bersumber dari fosil itu.
   
Di SPBU-SPBU di Banjarmasin memang tidak terjadi antrean panjang kendaraan roda empat berbahan bakar solar. Ini bukan berarti solar mudah didapatkan. Melainkan karena hampir di semua SPBU solar memang tidak ada. Terbukti dari tulisan di beberapa SPBU yang menyebutkan solar habis atau solar belum datang.

   
Namun, Kepala Cabang Pemasaran Pertamina Banjarmasin UPms VI, Budi Setio Hartono membantah kalau solar di Kalsel langka. Menurutnya, Pertamina sengaja membatasi pembelian solar untuk mengendalikan meningkatnya permintaan solar oleh SPBU.

   
Ada dugaan penyelewengan yang membuat Pertamina mengambil sikap seperti itu. Fakta di lapangan truk dan kendaraan roda empat lain antre untuk mendapatkan solar, sementara pasokan solar dari Pertamina ke SPBU tetap sesuai omzet rata-rata dari Januari hingga September.

   
Saat ini, pemerintah melalui Pertamina menerapkan dua kriteria harga penjualan solar. Untuk solar bersubsidi di SPBU dijual Rp 4.300 per liter. Sedangkan untuk industri Rp 7.000. Disparitas harga seperti ini tentu membuka peluang adanya penyelewengan.

   
Sampai kapan pun, jika selisih harga antara solar bersubsidi dengan solar industri besar, peluang untuk penyelewengan selalu terbuka lebar.

   
Solusi meminimalkan penyelewengan adalah dengan cara menyamakan harga bahan bakar bersubsidi dengan bahan bakar untuk industri. Paling tidak, harga bahan bakar untuk dua peruntukan itu ditetapkan tidak jauh berbeda.

   
Spekulan atau yang biasa mencari untung dari selisih harga antara yang bersubsidi dengan industri tentu tidak berani lagi main-main. Alih-alih untung malah rugi yang diperoleh.

   
Namun untuk mencapai posisi ideal seperti itu tentu tidaklah mudah. Begitu harga bahan bakar minyak massal dinaikkan, imbasnya bagi perekonomian negeri ini sangat besar. Harga kebutuhan pokok langsung meroket. Pengeluaran masyarakat bertambah besar. Ujung-ujungnya bisa memicu terjadinya inflasi.

    Apalagi dengan situasi ekonomi Indonesia yang belum benar-benar stabil, rasanya sangat sulit harga bahan bakar untuk industri dan masyarakat bisa disamakan. Daya beli mayoritas masyarakat Indonesia belum mencapai tahap itu. Subsidi masih sangat diperlukan sebelum perekonomian masyarakat benar-benar mapan.

   
Sungguh ironis, Indonesia, negeri yang kaya sumber daya alam punya masalah pelik seperti ini. Seharusnya, dengan kekayaan alam yang melimpah, terutama cadangan bahan bakar minyak yang besar, Indonesia tidak perlu repot dengan harga maupun pasokan bahan bakarnya.

   
Disparitas harga bahan bakar bersubsidi dan industri adalah upaya pemerintah untuk mencukupi kebutuhan dua pilar perekonomian negara. Kebutuhan masyarakat dan industri sama pentingnya. Ketika salah satunya merasa tidak tercukupi, perekonomian akan terganggu.

   
Gejolak kelangkaan bahan bakar minyak juga bisa memicu ketidaknyamanan di masyarakat. Konflik horizontal dapat terjadi manakala kebutuhan terhadap bahan bakar terganggu. Sementara pihak penyedia seperti Pertamina membatasi pasokannya.

   
Dalam situasi seperti ini, aparat penegak hukum harus mengambil peran. Penyelewengan apapun bentuknya adalah pelanggaran.

    Jangan biarkan pelanggaran berlarut-larut lalu menjadi suatu kebiasaan dan lambat laun menjadi lumrah. Harus ditindak dengan tegas sesuai dengan aturan yang berlaku.

   
Aturan atau regulasi buatan manusia tentu punya kelemahan. Kelemahan ini sering dimanfaatkan pihak pencari keuntungan. Tugas aparat penegak hukum untuk menutup lubang-lubang dari kelemahan aturan tersebut.

0 Duri dalam Daging

    Dalam beberapa hari belakangan, gabungan warga dari lima rukun tetangga di Jalan Yos Sudarso, Banjarmasin Barat selalu berjaga setiap malam. Puluhan orang rela begadang sejak Rabu (12/9) malam hanya untuk mencegat truk yang mengangkut batu bara.
    Penolakan warga cenderung berubah jadi kontak fisik manakala para sopir bersikeras lewat jalan tersebut. Jalan Yos Sudarso memang jadi jalan alternatif lintasan armada truk batu bara, usai bongkar muat di stockpile di kawasan Banjar Raya.

   
Warga setempat menolak truk-truk pengangkut emas hitam melewati jalan di kawasan tempat tinggalnya. Penolakan tersebut merupakan rangkaian dari penolakan serupa oleh warga di kawasan Jalan Zafri Zam Zam.

   
Banyak efek negatif yang membuat warga khawatir apabila Jalan Yos Sudarso jadi perlintasan truk-truk tersebut. Mulai gangguan pernafasan akibat debu batu bara hingga kecelakaan lalu lintas.

   
Tak bisa dipungkiri, lalu lintas angkutan batu bara jadi masalah yang belum bisa terselesaikan oleh pemerintah daerah.

   
Jalan Gubernur Soebarjo, Jalan PM Noor dan Banjar Raya yang kerap jadi alur lintasan, selalu memunculkan permasalahan dan sangat rawan dengan konflik.

   
Tidak hanya buruk bagi masyarakat, fasilitas umum seperti jembatan dan jalan umum yang jadi perlintasan angkutan batu bara umurnya menjadi lebih pendek karena beban angkut melebihi kapasitas.

   
Beberapa alternatif pemecahan masalah pernah digunakan sebagai usaha pemecahan masalah ini. Namun, tak satupun bisa memuaskan semua pihak.

   
Pengusaha batu bara, pemerintah provinsi hingga masyarakat yang kawasan tempat tinggalnya dilalui armada truk batu bara, pernah duduk satu meja guna memecahkan permasalahan ini. Tapi, lagi-lagi masalah berulang, penolakan oleh warga.

   
Sebenarnya, solusi permasalahan ini hanya satu. Truk batu bara dilarang lewat jalan umum. Angkutan batu bara harus lewat di jalan tersendiri yang peruntukannya bukan jalan umum.

   
Solusi ini yang sampai sekarang tidak bisa diwujudkan. Dalam rapat kerja antara Komisi III Bidang Pembangunan DPRD Kalsel dengan Kepala Dinas Kimpraswil dan Kepala Bapedda, Sabtu (15/9), terungkap fakta, untuk membangun jalan alternatif dibutuhkan dana hampir Rp 700 miliar.

   
Sementara perencanaan anggaran belanja melalui Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kalsel 2008 sebesar Rp 760 miliar.

   
Artinya, pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tidak mampu untuk membangun jalan alternatif angkutan batu bara dengan mengandalkan APBD. Pasalnya, masih banyak keperluan lain yang memerlukan pembiayaan dan tentu saja telah dianggarkan.

   
Padahal, kebutuhan akan jalan alternatif angkutan batu bara sudah sangat mendesak. Dan pemerintah provinsi harus merencanakan itu sejak dini lalu merealisasikan secepatnya.

   
Upaya Pemprov dengan menggandeng investor bisa membantu pemecahan masalah. Namun, sudah jadi rahasia umum, proyek-proyek pemerintah dengan anggaran besar rawan kolusi dan korupsi.

   
Jika pengawasannya kurang, proyek pembangunan jalan alternatif bisa jadi lahan korupsi baru. Alih-alih masalah terselesaikan, malah menimbulkan masalah baru.

   
Semoga saja hal itu tidak terjadi. Berangkat dari niat yang baik mudah-mudahan mendapatkan hasil yang baik pula. Masyarakat benar-benar menunggu realisasi pemecahan masalah lintasan angkutan batu bara ini.

   
Masalah angkutan batu bara ini ibarat duri dalam daging. Meski dianggap kecil tapi pelik dan menyusahkan. Jika tidak segera ditanggulangi, rentetan efek dan konflik di masyarakat akan selalu muncul dan mengganggu.***

2 Kebun Binatang Bandung




Diabadikan dengan menggunakan kamera handphone Sony Ericsson K610i
FOTO: ROYAN NAIMI

Rabu, 21 November 2007

4 Maskot Kalimantan Selatan




Bekantan (Nasalis larvatus) adalah maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Satwa mamalia ini merupakan satwa endemik yang hanya ada di kawasan tertentu. Di Kalimantan Selatan ada pulau di tengah Sungai Barito bernama Pulau Kaget. Di sana habitat tersisa kera berhidung mancung nan pemalu itu. Boneka bekantan merupakan salah satu cara untuk mengingatkan pada setiap orang bahwa bekantan satwa dilindungi dan terancam punah.
FOTO: AYA SUGIANTO

Selasa, 20 November 2007

0 Sulitnya Menyamakan Komitmen

       SEBUAH keputusan kontroversial, diambil majelis hakim Pengadilan Negeri Medan, Senin (5/11) dengan membebaskan terdakwa dugaan pembalakan liar Adelin Lis dari segala tuntutan.
    Keputusan tersebut tentu sangat mengejutkan semua pihak.  Terutama bagi mereka yang terlibat langsung dalam usaha menjerat Adelin Lis seperti Polri maupun aktivis lingkungan
    Vonis bebas semakin menarik, manakala mengingat Adelin pernah menghilang selama berbulan-bulan. Wajahnya pun sempat ditayangkan sebagai buronan kelas kakap lewat salah satu acara di televisi swasta.
    Ia baru bisa ditangkap aparat Kedubes Indonesia Kamis (7/9) di Beijing, China ketika hendak memproses perpanjangan paspor. Ia juga sempat melarikan diri meski akhirnya kembali ditangkap Jumat (8/9).
     Begitu panjang dan berliku perburuan Adelin, sampai-sampai ketika Adelin berhasil ditangkap, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan rasa gembira dan menyampaikan penghargaan kepada aparat hukum.
     Semua usaha keras yang dilakukan aparat dalam menangkap Adelin buyar ketika hakim memutuskannya bebas. Padahal, Adelin yang diduga merugikan negara triliunan rupiah, dalam persidangan dituntut Tim Jaksa Penutut Umum 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.
    Vonis bebas bagi terdakwa dugaan pembalakan liar bukan hanya Adelin yang merasakan. Sudah beberapakali hakim yang menangani kasus pembalakan liar membuat para terdakwanya 'lenggang kangkung'.
   Dari catatan Walhi Sumut ada 11 kasus berakhir dengan vonis bebas bagi terdakwa.
    Bahkan, dalam kasus Adelin Lis, Walhi mencurigai ada permainan uang dalam putusan bebasnya. Tapi terlepas dari ada atau tidaknya permainan uang, putusan bebas yang diterima Adelin semakin menurunkan wibawa pengadilan umum dalam menangani kasus pembalakan liar.
    Mabes Polri jadi pihak yang paling kecewa atas keputusan hakim tersebut. Kerja keras polisi untuk mencarikan bukti, mengejarnya sampai ke China lalu menangkapnya, seakan sia-sia ketika terdakwa divonis bebas.
     Untungnya, meski ada rasa kecewa, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Sisno Adiwinoto menegaskan, vonis bebas terhadap Andelin Lis tidak akan melunturkan niat Polri menghabisi para pelaku pembalakan liar.
     Komitmen Polri untuk memberantas praktik pembalakan liar akan terus dilaksanakan sampai hutan benar-benar aman dan terjaga dengan baik.
      Tapi Polri tidak bisa bertindak sendirian. kejaksaan dan pengadilan harus ikut mengambil peran dalam usaha penegakkan hukum terhadap pelaku pembalakan liar.
      Sayangnya, polisi, kejaksaan dan pengadilan masih belum punya komitmen yang sama dalam penegakan hukum terhadap pelaku pembalakan liar. Ketika polisi dengan lantang menyuarakan perang terhadap pembalakan liar, dua institusi lain seperti kejaksaan dan pengadilan kurang mendukung.
      Kadangkala masing-masing institusi punya ego sektoral yang sangat tinggi sehingga koordinasi terabaikan. Padahal, tiga institusi tersebut punya peran yang sangat besar dalam menegakkan hukum di Indonesia.
      Kiranya perlu ada persamaan visi dalam pemberantasan pembalakan liar. Kejaksaan, kehakiman dan kepolisian perlu duduk satu meja untuk urun rembug, mengesampingkan perbedaan kemudian mengedepankan persamaan.
     Jika masih saja terjadi perbedaan visi, usul Walhi agar dibentuk pengadilan Ad Hoc khusus lingkungan hidup bisa dipikirkan sejak dini. Jika pengadilan ad hoc lingkungan hidup terbentuk, wibawa peradilan umum semakin hilang.



0 Menu Bersih dan Hijau

  HARI jadi Kota Banjarmasin ke-481 diperingati cukup meriah di balaikota. Sebenarnya, hari jadi kota Seribu Sungai setiap tanggal 24 September. Namun karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, perayaan diundur ke bulan Oktober.
      Terlepas dari perayaan itu, melihat wajah kota Banjarmasin dalam usia 481 tahun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah kota.
     Dalam usia setua itu, tidak banyak infrastruktur yang dimiliki. Kesan pertama bagi pendatang adalah semrawut dan kotor.
   Belum lekang dari ingatan, betapa malunya warga kota ini saat Banjarmasin mendapat predikat kota terkotor dau tahun lalu.
     Dengan luas 72 km² atau 0,019% dari luas wilayah Kalimantan Selatan, Banjarmasin tergolong kota padat penduduk dengan jumlah jiwa sebanyak 527.250 orang berdasar sensus tahun 2000.
     Sementara terletak pada 3
°,15 sampai 3°,22 Lintang Selatan dan 114°,32 Bujur Timur, ketinggian tanah berada pada 0,16 m di bawah permukaan laut, membuat Banjarmasin bersuhu panas.
     Karakteristik kota pesisir bersuhu panas seharusnya sudah jauh-jauh hari diantisipasi pemerintah kota dengan dengan banyak menanami pohon atau membuatkan ruang terbuka hijau. Kenyataannya, Banjarmasin sangat minim fasilitas itu.
    Jika boleh membandingkan dengan Balikpapan, Kalimantan Timur, Banjarmasin yang dulunya merupakan pusatnya Kalimantan karena pernah menjadi ibukota provinsi Kalimantan pada zaman awal kemerdekaan, saat ini sudah juah tertinggal.
    Padahal jika dilihat dari segi usia, Balikpapan yang baru berusia 110 tahun, jauh lebih muda dibanding Banjarmasin.
    Lantas, bagaimana dengan Rencana Tata Ruang Kota (RTRWK) Banjarmasin? Bila kita hanya memperlakukan RTRWK sebagai dokumen normatif, RTWK hanya akan menjadi "macan ompong di atas kertas" yang tak memiliki sanksi hukum.
    Idealnya, RTRWK yang telah menjadi dokumen hukum ini harus menjadi rujukan bersama para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan pembangunan dan pengembangan daerahnya.
  Terutama pengambilan keputusan soal persetujuan dan penerbitan izin pemanfaatan ruang. Sebelum izin dikeluarkan, pemerintah harus benar-benar mempertimbangkan dampak dan pengaruh pemanfaatan suatu ruang terhadap ruang yang lain.
    Melihat penataan Kota Banjarmasin yang masih semrawut, tak heran jika banyak orang sanksi apakah RTRWK benar-benar telah dilaksanakan dan jadi pedoman pembangunan daerah?
    Sikap skeptis seperti itu sangatlah wajar karena banyak sekali praktek kegiatan pembangunan yang mengabaikan RTRWK, mulai dari pengalihan lahan terbuka hijau menjadi mall hingga pendirian bangunan permanen di sempadan sungai. Dalam PP 47/97 sangat jelas kriteria fungsi suatu kawasan dan peruntukannya, dan lebih sering dilanggar oleh pembuat kebijakan.
    Untuk itu perlu dipikirkan strategi dalam penyusunan RTRWK yang baru untuk pembangunan Banjarmasin. Kita tentu tidak ingin Kota Banjarmasin stagnan tanpa perubahan yang berarti atau bahkan malah tambah semrawut.
    Pada dasarnya, tak banyak yang diinginkan masyarakat. Cukup kota menjadi bersih dan sehat, dua indikator itu bisa membawa efek positif yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat.
    Tak heran, Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni, pada perayaan HUT Banjarmasin ke-481 mencanangkan program Clean and Green (Bersih dan Hijau).
    Untuk tahap pertama, Pemko Banjarmasin menetapkan kawasan Jalan Lambung Mangkurat sebagai lokasi proyek percontohan clean and green. Pemko bakal menggandeng seluruh instansi yang berada di sepanjang Jalan Lambung Mangkurat. *

0 Membangun Citra Positif

        SEKECIL apapun kejelekan yang dilakukan aparat akan terlihat besar di mata masyarakat. Sementara setiap perbuatan baiknya menjadi suatu kebiasaan dan dianggap lumrah.
    Kalimat di atas mungkin bisa menggambarkan posisi seorang aparatur pemerintah. Ketika berbuat salah, sorotan langsung tertuju pada mereka. Insititusi tempatnya bernaung langsung tercoreng. Berbeda dengan seorang sipil yang melakukan kesalahan.
         Polri dan TNI merupakan dua institusi pemerintah yang kerap memunculkan citra negatif di masyarakat. Terlalu banyak jika disebutkan satu demi satu kasus apa saja yang menimbulkan prasangka jelek di mata masyarakat.
        Citra buruk yang terbangun meski mungkin tidak disengaja, selalu berulang dari waktu ke waktu. Baru-baru ini bentrok antar kedua institusi bersenjata tersebut terjadi di Ternate. Sementara di banua, empat oknum Brimobda Polda Kalimantan Selatan melakukan kekerasan dengan menembak dua warga Logpadi, Satui, Tanah Bumbu.
         Memang belum ada penelitian khusus tentang apa yang menyebabkan begitu banyak kekerasan melibatkan aparat di negeri ini. Namun, setidaknya kita bisa membandingkan dengan negara-negara lain yang bisa memposisikan aparat bersenjata sesuai koridornya.
     TNI tugasnya bela negara. Semua yang berkait dengan pertahanan dan keamanan negara (Hankam) adalah wewenangnya. Sementara polisi punya tugas lebih dekat kepada masyarakat. Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kambtibmas) jadi jalur pekerjaan aparat berseragam coklat-coklat.
         Garis pembagian tugas ini semakin jelas semenjak Polri secara resmi berpisah dari naungan TNI tahun 1999, diperkuat dengan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 tahun 2001 tentang organisasi dan tata kerja kepolisian negara Repulbik Indonesia.
        Sayang, gugus tugas yang sudah cukup jelas itu seringkali dilanggar. Ada oknum-oknum aparat yang sengaja tidak mematuhi demi kepentingan pribadi, seperti menjadi beking atau kacung pengusaha bahkan tak jarang turut berkecimpung dalam bisnis haram.
        Persoalan kesejahteraan sering ditonjolkan sebagai penyebab TNI dan Polri mencari penghasilan tambahan di luar institusinya. Ini tentu jadi persoalan besar bagi pemerintah dan sampai saat ini belum terpecahkan.
            Sebenarnya masyarakat mengerti, di zaman yang serba sulit seperti sekarang ini, gaji polisi atau tentara tentu sangat pas-pasan atau bahkan bisa dikatakan kurang.
           Masyarakat pun mahfum, jika aparat mencari penghasilan di luar gaji reguler. Tentunya asalkan tidak melanggar aturan-aturan hukum dan institusinya sendiri.
        Tapi persoalan kesejahteraan tidak hanya TNI atau Polri yang merasakannya. Penghasilan seorang buruh pabrik dengan seorang bintara yang sama-sama lulusan SMA tidak bisa disamakan. Padahal, seorang buruh pabrik mungkin juga merasakan masih jauh dari sejahtera.
          Meskipun disebut kesejahteraan TNI dan Polri masih kurang, anehnya tiap tahun pemuda-pemudi negeri ini masih menaruh minat untuk menjadi korps berseragam dan bersenjata tersebut.
         Artinya, walaupun citra aparat bersenjata banyak negatif di masyarakat, namun minat generasi muda untuk berkarya lewat TNI atau Polri masih tinggi. Tidak jadi masalah meskipun kesejahteraan masih dianggap kurang.
       Menjadi anggota TNI dan kepolisian memiliki amanah yang lebih besar dibanding warga sipil. Sudah sepatutnya bagi mereka untuk menjaga amanah itu dan bisa dimulai dengan membangun citra positif di mata masyarakat.
      Masyarakat tidak menuntut banyak dari aparat. Cukup bekerja sesuai tugasnya, itu sudah lebih dari cukup. Mudah-mudahan generasi muda yang ingin berkecimpung di dua institusi itu bisa belajar dari citra buruk yang terbangun selama ini. Jangan sampai malah melestarikannya. *

Kamis, 08 November 2007

0 royannaimi.gmail.com

3 Penipu Lintas Benua

Pertengahan tahun 2006,  saya mendapat pesan dari seseorang bernama Mr Edward Ikenna dari Nigeria. Entah bagaimana ia bisa menghubungi saya. Dia mengaku sebagai salah seorang direktur di City Trust Bank di Lagos, Nigeria.
            Singkatnya, ia menawarkan kerjasama untuk mengklaim asuransi kecelakaan dari seorang warga negara Indonesia bernama Levi Naim, yang bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak.
            Menurut Mr Edward, karena ada kemiripan nama, ia meminta saya berpura-pura menjadi keluarga dari Mr Levi Naim   untuk mendapat klaim asuransi sebesar 18,5 juta dolar AS. Fiuh….sebuah nilai yang fantastis. Siapa pun pasti tergoda untuk memilikinya.
            Waktu itu yang ada dalam pikiran saya, bagaimana mungkin nama saya M Royan Naimi, bisa dapat ‘durian runtuh’ jutaan dolar dari asuransi kematian seorang bernama Levi Naim.
            Tapi  Mr Edward berusaha meyakinkan saya bahwa ia sudah berusaha mencari keluarga Mr Levi Naim , namun tidak berhasil. Daripada uang jutaan dolar jadi milik bank, lebih baik uangnya dibagi dua. Demikian rayu Mr Edward dalam korespondesi melalui email dengan saya.
            Saya awalnya antipati dengan sikapnya itu. Namun, rayuannya membuat saya berpikir ulang dan menjadi sangat-sangat tergoda. Ia menjanjikan pembagian 60:40 atas uang jutaan dolar AS itu. 60 persen untuknya dan 40 persen buat saya. Ia juga meyakin bahwa tidak ada risiko hukum dalam kerjasama kami.
            Akh… setan mulai merasuk pikiran saya.  Saya tahu ini salah. Ini adalah usaha mengambil hak orang lain, jelas bukan sesuatu yang benar dalam hukum negeri manapun. Tapi saya berpikir, tiada salahnya mencoba  dengan penuh hati-hati, setidaknya untuk mengetahui apakah Mr Edward benar-benar mengantarkan saya jadi jutawan atau hanya seorang penipu.
            Naluri jurnalistik saya langsung mencuat. Ini kesempatan buat tahu lebih jauh tentang Mr Edward Ikena from Nigeria. Tapi usaha untuk menggali siapa orang ini melalui komunikasi lewat email dan yahoo messenger tidak membuahkan hasil. Mr Edward sangat tertutup tentang pribadinya.
            Saya mencoba melacak City Trust Bank dengan browsing melalui  portal google.com. Tidak ada bank di Lagoos dnegan nama itu. Yang ada adalah Trust Bank. Dari sini saya mulai curiga.
            Tapi Mr Edward pernah menelpon saya dua kali melalui private number. Bahasa Inggrisnya bagus.  Logat dan intonasinya tidak seperti orang Inggris atau Amerika. Intinya ia kembali mengingatkan saya untuk segera mengambil sikap atas tawarannya.
            Akhirnya apa yang dia tawarkan saya coba lakukan tentunya dengan penuh kewaspadaan.  Saya katakan padanya jika saya harus keluar uang saya tidak mau. Jika harus ke Nigeria, saya juga tidak bisa.
            Ia kembali meyakinkan tidak ada unusr penipuan dalam kerjasama kami. Bahkan ia berusaha meyakinkan, akan mengunjungi saya untuk membagi uang tersebut. Alamat saya pun dimintanya agar dia bisa bertemu saya.
            Ok, saya pikir tidak ada salahnya mencoba Nothing to Lose.  Pertama saya mengirimkan aplikasi ke alamat email City Trust Bank. Konsepnya dibuat oleh Mr Edward. Saya tinggal mengirimnya via email.
            Sehari berikutnya saya mendapat balasan agar melengkapi diri dengan kartu identitas dan riwayat hidup serta menyertakan surat keterangan kematian Levi Naim dari kepolisian setempat. Kembali Mr Edward membantu dengan mengirimkan file surat kematian itu kepada saya lalu diteruskan ke City Trust Bank.
            Tibalah saat yang paling mendebarkan. Bank minta saya datang ke Lagoos untuk mengklaim asuransi Levi Naim. Ketika menerima email ini jantung saya berdebar. Apakah mungkin ini benar? Apa mungkin Mr Edward benar-benar serius?
            Tapi dalam lubuk hati saya yang paling dalam terbesit keraguan. Begitu mudahnya mendapatkan uang jutaan dolar hanya melalui korespondesi lewat email.
            Kewaspadaan saya semakin meningkat. Pasti ada sesuatu yang tidak benar dibalik semua fakta-fakta yang menyakinkan itu.
            Ternyata dugaan dan insting saya benar. Ketika saya katakan kepada Mr Edward saya tidak mungkin pergi ke Nigeria untuk mengklaim asuransi itu. Ia mengatakan bisa diwakilkan dengan menyewa seorang pengacara di sana.
            Seorang pengacara Bar.Amara Chukwu Esq.  Ditawarkannya pada saya  beralamat di 1458 RUE TREFANS,BP 56 AMADUBELLOW WAY  LAGOS NIGERIA Tel: +234-806-823-6281, E-MAIL:barristeramarachukwu@yahoo.com           


Untuk memakai jasanya saya harus membayar 4,800 Dolar AS. Saya katakan pada Mr Edward saya tidak punya uang untuk mebayar pengacara itu. Dari sini mulai terlihat belangnya. Ia mengatakan saya  harus berkorban sedikit untuk membayar pengacara.
            Ia membandingkan semua usaha yang telah dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang sudah saya lakukan. Tingkat kepercayaan saya padanya semakin luntur. Saya yakin ini adalah usaha penipuan.
            Saya bilang jika ia berusaha menipu saya bukan orang yang pas. Saya bukan orang kaya atau punya banyak simpanan  uang. Silakan mencari orang lain yang lebih berduit.
            Sejak itu korespondensi saya yang intens hampir setiap hari dengan Mr Edward mulai tersendat. Ini tentu saja semakin meyakinkan saya ia memang berusaha menipu saya.
            Korespondensi kita semakin jarang begitu saya masuk rumah sakit karena harus menjalani operasi  mengangkat batu dari saluran kandung kemih. Begitu saya kembali fit sebulan kemudian, saya ingin mengetahui adakah kabar dari penipu ini.
            Ketika saya buka email, ada beberapa pesan darinya yang intinya kembali berusaha meyakinkan saya bahwa ini kesmepatan untuk menjadi kaya. Tapi saya yakin apa yang saya lakukan adalah benar. Dan saya bersyukur tidak menjadi korban penipuan. ***

Senin, 05 November 2007

4 Dari Ketupat Kandangan Sampai Barongsai

     BAGI warga banua di perantauan, menikmati masakan khas Banjar adalah sesuatu yang langka. Lupakan dulu soal rasa, setidaknya bisa jadi pengobat rindu akan suasana kampung halaman.
     Eka Nurlia Lisa (20) sibuk melayani pembeli. Tangannya dengan cekatan menuangkan kuah Soto Banjar ke dalam piring yang berisi ketupat, irisan daging ayam dan telor.
     Ia dan kedua orangtuanya, Rusnayadi dan Eliya terlihat sangat kompak di warung dadakan yang mereka tempati. Eliya menyiapkan makanan, sementara Rusmayadi membuatkan minuman. Eka tak mau kalah, ia dengan sigap melayani pembeli.
     "Silakan pak, dirasai sotonya," ucap Eka dalam bahasa banjar namun dengan logat Jawa.
     Meski pasih berbahasa Jawa karena sudah delapan tahun mukim di Surabaya, Eka tidak melupakan bahasa Banjar walaupun logat maupun intonasinya sudah agak berubah.
     "Ulun masih rancak ke Banjar. Hari Raya (Idul Fitri) tadi di Banjarmasin, di Jalan Sutoyo S di rumah nini," tutur kelahiran Amuntai, HSU itu dengan ramah.
     Eka dan kedua orangtuanya bagian dari komunitas masyarakat Banjar yang tinggal di Surabaya. Sabtu (28/10) Kerukunan Keluarga Kalimantan (KKK) di Jawa Timur punya hajatan.
       Halal Bil Halal warga asal lima provinsi tersebut digelar di Gedung Gelora Panjasila, di Jalan Indragiri, Surabaya. Beberapa tokoh Kalsel hadir dalam acara tersebut. Seperti Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Taufiq Effendi, Gubernur Rudy Ariffin, Walikota Banjarmasin Yudhi Wahyuni serta beberapa bupati.
     Menurut ketua panitia penyelenggara, H Nur Alamsyah, jumlah warga asal Kalimantan di Jawa Timur lebih dari 100 ribu jiwa dengan mayoritas berasal dari Kalsel.

    Tak heran, baik panitia penyelenggara, pengisi acara hiburan maupun yang berjualan di warung-warung dadakan yang disediakan panitia, mayoritas orang Banjar atau yang pernah tinggal di Kalsel.
    Beragam makanan khas Banjar bisa ditemui di sana. Kue basah seperti bingka, kararaban atau amparan tatak langsung diserbu pengunjung.
    Adapula yang berjualan soto banjar, buras, masak habang dan nasi kuning, termasuk ketupat kandangan. Tidak ketinggalan dipajang kerajinan sasirangan dan perhiasan batu dari Martapura.
    Mengenai rasa masakannya, tentu tidak bisa dibandingkan dengan masakan yang dibuat di banua. Ada beberapa bumbu dasar maupun penyajian yang sedikit berbeda.
    Salah satu contoh adalah ketupat kandangan. Penyuka masakan ini tentu tahu betul ciri khasnya, terutama dari ketupatnya. Jika diremas ketupat akan luruh seperti nasi. Nah, ketupat di warung dadakan malah seperti ketupat soto.
    Ketika BPost mengusut lebih jauh asal usul pedagangnya, ternyata bukan berasal dari Kalimantan Selatan atau Kandangan, melainkan orang Jawa Timur dan Madura.
     Tidak melulu budaya Banjar yang tampil dalam perhelatan tersebut. Kesenian Barongsai turut memeriahkan. Bahkan, kedatangan Menpan Taufiq Effendi dan Gubernur Rudy Ariffin disambut  tari-tarian kesenian asal China itu.

 

Jumat, 02 November 2007

0 My Poem

TIDURLAH

Tidurlah manusia yang tak mau tidur
Kala mata membelalak
memandang jalang ke pelosok
mencari sesuatu yang tiada arti

Tidurlah manusia yang tak mau tidur
Saat siang hilang ditelan malam
Pelita menggantikan sang mentari
Berkeliaran di bawah nur yang redup

Tidurlah manusia yang tak bisa tidur
Tergelak semu dalam temaram
Bagai fajar takkan menyingsing
Seolah hanya ada ini hari

Tidurlah manusia yang tak mau tidur
Yang berjalan di lorong gelap
Yang bergerombol di sudut jalan
Yang termangu di gubuk bawah jembatan

Yang berkeringat di bilik kecil
Yang kedinginan di emperan toko
Yang berjogetan di diskotek
Yang duduk menatap malam

Tidurlah manusia yang tak bisa tidur
sejenak pejamkan mata
Merenda keindahan
Berharap bangun di dunia lain

Banjarmasin 10042005 23:55 Wita

 

BOCAH MALAM

Jemari kecil disodorkan
Telapak tangan dibuka lebar
Mata redup
Tunggu uluran manusia malam

Berlari ke hulu
ke hilir
kejar gadis jalang berbaju seksi
Cepat menggiring om senang

Lusuh bau dekil
Tiada kesedihan
hanya senyum kegetiran
dan telapak-telapak kecil yang selalu disodorkan

Betapa dermawan malam
Beri rezeki di tangan-tangan mungil
Lewat perempuan-perempuan malam
Dari tangan lelaki bajingan
Oh kejamnya siang

Banjarmasin 12042005 00:10 Wita

 

MENCOBA

Coba tuk menjauh kau membayang
Coba tuk mendekat ku gelisah
Coba tuk berpaling kau menggiring
Coba tuk bertahan ku tak mampu

Banjarmasin 11042005 22:10 Wita

0 Menulis adalah Pekerjaan

Menulis adalah pekerjaan saya. Tapi menulis blog bukan pekerjaan mudah. Menulis sesuatu baik ide maupun pemikiran tentu semua orang bisa. Namun, menulis sesuatu untuk dibaca orang banyak dan disukai, tidak semua orang mampu.             Saya sudah pernah mencoba menulis di blog, pernah mencoba menjadi blogger kecil-kecilan. Hanya saja saya  punya kelemahan yakni konsistensi. Kadang saya kurang konssiten untuk menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan.             Tapi akhir-akhir ini entah kenapa saya ingin menuangkan isi kepala saya di dalam blog. Bagi yang membaca, suka atau tidak akan tulisan yang saya buat, sepenuhnya terserah pembaca. Moga-moga saya tetap konsisten. Hehehe….Banjarmasin 021107

0 Indomedia.com

0 | | Banjarmasin Post Online | | - Home

http://www.banjarmasinpost.co.id
Found information about Banjarmasin from this site

My Blog List

 

Coretan Royan Naimi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates