Selasa, 26 Juli 2011

0 Membenahi 'Besi Tua'

    BEBERAPA hari ini, para sopir dan pengusaha angkutan kota (angkot) atau di Banjarmasin lebih dikenal dengan sebutan taksi kuning, 'menggeliat'. Angir segar seakan berembus ketika Pemko melalui dinas perhubungan informasi dan komunikasi (Dishubkominfo) menginformasikan rencana penggantian angkot.
    Saat ini, kendaraan angkutan umum berwarna kuning dan putih kuning ini berjenis minibus seperti Suzuki Carry. Rencananya, angkot bakal diganti dengan mobil yang lebih bagus dan modern, yakni Suzuki APV. Untuk tahap awal sebanyak 125 mobil.
    Begitu tahu ada informasi itu, para sopir dan pengusaha angkutan kota ramai-ramai mendaftar. Angka yang mendaftar pun sudah melebih rencana pengadaan mobil Suzuki APV, yakni 150 lebih.
    Walaupun masih tahap pendaftaran, namun rencana pergantian mobil angkot ini membawa semangat baru, baik bagi pengusaha angkutan umum, sopir dan masyarakat. Sebab, sudah jadi rahasia umum, alat transportasi massal ini di Kota Banjarmasin ini mulai terpinggirkan.
    Ada banyak faktor yang menyebabkannya. Paling berpengaruh tentunya saja kemudahan masyarakat untuk mendapat kredit sepeda motor. Cukup dengan uang Rp 500 ribu sampai Rp 750 ribu, sepeda motor baru sudah bisa dibawa pulang. Ketika di belakang hari kreditnya macet, lalu motor ditarik oleh leasing, itu lain persoalan.
    Di sisi lain, saat ini usia angkot di Kota Banjarmasin tergolong 'besi tua'. Paling muda usianya buatan 2001. Bahkan, masih ada mobil keluaran 1983 yang beroperasi. Rata-rata usianya di atas 20 tahun!
    Lucunya, tidak ada upaya peremajaan sama sekali dari pemko. Lambat laun, orang pun lebih memilih sepeda motor karena lebih praktis. Ini terlihat jelas pada jumlah trayek. Semula ada 20 sekarang hanya tinggal lima.
    Alangkah naif jika sebuah kota tidak memiliki alat trasportasi massal. Apalagi status Kota Banjarmasin yang ingin menjadi kota metropolitan, memiliki alat transportasi massal adalah keharusan. Tidak bisa hanya mengandalkan sepeda motor, karena kepentingan dan orientasi penggunaannya berbeda. Demikian pula taksi, hanya bisa menyasar kalangan menengah ke atas.
    Sementara untuk menggunakan angkutan lebih besar macam bus tidak sesuai untuk Kota Banjarmasin yang kondisi jalannya pendek- pendek dan kebanyakan sempit. Demikian pula untuk dibangun trem atau kereta listrik, butuh dana yang tida sedikit. Alat trasportasi massal yang paling cocok untuk Kota Banjarmasin memang hanya angkot.
    Seandainya rencana seperti ini muncul lima atau 10 tahun lalu, mungkin kondisi angkutan massal di Banjarmasin tidak sekarat seperti sekarang, ditinggalkan oleh penggunanya. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya. Jika angkot bakal diganti dengan mobil jenis Suzuki APV benar-benar terealisasi, diharapkan muncul semangat baru untuk membenahi trasportasi perkotaan.
    Namun, patut dijaga, jangan sampai semangat ini ditunggangi oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan pribadi. Seperti oknum yang ikut berbaur di antara sopir dan pengusaha angkutan demi mendapatkan mobil baru dengan harga miring dan bisa dipakai untuk tambahan penghasilan.
    Harus pula diawasi, pengusaha-pengusaha dadakan yang menurut informasi mulai kasak-kusuk ikut mendaftar. Berikan ruang lebih bagi penggelut usaha ini atau sopir yang sudah berkecimpung puluhan tahun.
    Namun, penggantian angkot saja tidaklah cukup jika fasilitas lain terabaikan. Halte di Kota Banjarmasin jumlahnya sedikit. Trayek hanya tinggal lima. Sementara kondisi terminal semrawut. Semoga semangat pembenahan itu tak berhenti sampai pada pergantian angkot saja. (*)



 

Kamis, 14 Juli 2011

0 Dagelan Hukum

    PENEGAKAN hukum menjadi harapan masyarakat. Semua orang diperlakukan sama di mata hukum. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga agar hukum itu ditegakkan dengan benar.
    Walaupun jadi tanggung jawab bersama, tapi pilar-pilar hukum adalah ujung tombak pelaksananya. Hakim, jaksa, polisi dan pengacara berada dalam satu lingkaran hukum tak terpisahkan. Ketika salah satu berjalan di luar lingkaran, maka lemahlah hukum itu.
    Ada banyak kasus yang menunjukkan hukum itu melemah, mulai dari level nasional sampai ke tingkat daerah. Salah satu contoh melemahnya hukum adalah indikasi kejanggalan surat keterangan perawatan medis pada kasus pesta sabu di Tanjung, Tabalong.
    Dua terdakwa yang juga sipir Lapas Narkotik Tanjung, Ekat Rariu A dan Randy Kurnia mendapat vonis 'ringan' karena ada alat bukti yakni berupa surat medis dari Rumah Sakit Wava Husada dan Rumah Sakit Jiwa Radjiman Wedyodiningrat, Malang, Jawa Timur.
    Surat itu menerangkan keduanya pernah dirawat di dua rumah sakit itu. Namun, belakangan muncul indikasi kejanggalan surat itu karena dua orang itu tetap masuk kerja pada tanggal dia dirawat.
    Indikasi kejanggalan ini yang luput dari perhatian pilar-pilar hukum. Jaksa, dengan mudah menerima surat itu sebagai alat bukti. Padahal, jaksa merupakan pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang sebagai penuntut umum. Otomatis, sebagai pemegang amanat undang-udang, jaksa jugai pengemban amanat rakyat, sebagai pelayan masyarakat pencari keadilan. Sudah sepantasnya jaksa menjunjung tinggi hukum agar tidak diinjak-injak oleh kepentingan pribadi atau kelompok.
    Sementara pada kasus ini, hakim tidak berbuat lebih jauh dengan alasan normatif karena melihat jaksa tidak mempersoalkan surat medis tersebut.
    Para hakim berperan penting dalam memutuskan perkara. Ketika proses persidangan ada kejanggalan, menjadi tugas hakim untuk meluruskannya, didukung bukti-bukti yang kuat. Sebab, kecermatan seorang hakim kunci dari keadilan.
    Ketika dugaan kejanggalan in terpublikasi melalui media, masyarakat melihatnya seperti sebuah dagelan. Muncul dugaan ada permainan di balik sidang untuk meringankan hukuman dua sipir itu. Makin menguatkan pula dugaan bahwa hukum bisa dibolak-balik, salah jadi benar, benar jadi salah.
    Kejanggalan ini jadi preseden buruk penegakan hukum di Banua. Jika didiamkan, alamat muncul lagi kasus-kasus serupa yang menurut pandangan masyarakat awam adalah sebuah dagelan penegakkan hukum. Atau, memang hukum dengan mudah dibikin jadi dagelan asal saling menguntungkan? Mudah-mudahan tidak seperti itu. Sebab, tingkat kepercayaan masyarakat pada pilar-pilar hukum bakal makin melemah seiring melemahnya penegakkan hukum.
    Oleh karena itu, aparat kepolisian, khususnya Polres Tabalong jangan tinggal diam. Usut tuntas dugaan ketidakberesan ini. Siapa pun ketika melakukan tindak pidana atau melakukan perbuatan melanggar hukum, polisi harus bertindak tegas. Jangan ragu untuk menindak pelakunya, meski itu dilakukan oleh pilar hukum itu sendiri.
    Patut diingat, polisi adalah pelayan masyarakat. Ketika masyarakat melihat ada ketidakberesan hukum, polisi harus membantu masyarakat mengusut dan menggiring ke ranah hukum. Jangan malah terbalik, melayani dan melindungan orang yang memiliki kekuatan materi. Jangan sampai hukum tercederai atau ikut melemahkannya. Pada kasus ini, harapan masyarakat tingggal pada pundak kepolisian.

Rabu, 11 Mei 2011

2 Lihat Dulu Realitanya

    TIGA jam bukan waktu yang sebentar. Banyak hal bisa dilakukan dalam kurun waktu itu. Tapi akan sangat membosankan ketika harus menunggu. Apalagi jika yang ditunggu adalah keberangkatan pesawat.
    Demikian yang dialami ratusan calon penumpang beberapa maskapai penerbangan, Kamis (21/4) sore. Beberapa pesawat tidak bisa mendarat maupun take off karena landasan pacu Bandara Syamsudin Noor rusak. Perlu waktu minimal tiga jam bagi pihak PT Angkasa Pura Bandara Syamsudin Noor untuk memperbaikinya.
    Pihak PT Angkasa Pura Bandara Syamsudin Noor beralasan terjadi kerusakan di titik 1.600 meter dari awal runway 10 karena usia landasan sudah tua. Akibatnya ada bagian dari landasan yang ambles hingga 7 sentimeter.
    Landasan pacu Bandara Syamsudin Noor kerap mengalami kerusakan. Pada 24 Maret 2011, landasan pacu Bandara Syamsudin Noor juga mengalami kerusakan. Panjang landasan yang seharusnya 2.500 meter berkurang sekitar 300 meter karena aspal mengelupas. Meski penerbangan tidak terganggu, namun saat itu para calon penumpang cemas. Pun dengan pilot, harus ekstra hati-hati.
    Lucunya, bagian yang rusak itu pernah mengelupas pula pada 2004. Kepala Bidang Lalu lintas Angkutan Udara Dinas Perhubungan Kalsel Ismail Iskandar mengatakan, seharusnya tiap lima sampai enam tahun landasan diperbaiki atau dipoles.
    Lantas, kenapa tidak dilakukan? Mungkin jika pemeliharaan rutin dilakukan, kerusakan bisa diminimalisasi. Biaya perbaikan pun tidak besar. Bayangkan saja, untuk memperbaiki aspal yang terkelupas pada Maret lalu, PT Angkasa Pura harus mengeluarkan uang Rp 20 miliar. Belum diperoleh informasi berapa biaya perbaikan kerusakan di titik 1.600 meter.
    Melihat kondisi landasan pacu demikian, rasa pesimistis muncul ketika ada informasi bahwa Bandara Syamsudin Noor bakal dikembangkan menjadi berstatus internasional. Selama ini bandara yang berlokasi di Banjarbaru ini status internasionalnya hanya insidentil, yakni ketika musim haji.
    Semangat menjadikan Bandara Syamsudin Noor berstatus internasional adalah untuk mengakomodir jemaah umrah dan haji Banua yang tiap tahun terus meningkat. Bahkan untuk jemaah umrah saja mencapai 21 ribu orang tiap tahun.
    Di antara persyaratan fisik sebuah bandara berstatus internasional adalah minimal memiliki landasan pacu sepanjang 2.500 meter dan ada kantor imigrasi untuk pemeriksaan paspor, visa serta dokumen lainnya.
    Jika dalam waktu dekat Bandara Syamsudin Noor tidak bisa memenuhi itu, jemaah harus transit di bandara-bandara yang sudah berstatus internasional seperti Bandara Polonia di Medan atau Sepinggan, Balikpapan.
    Mampukan pemerintah daerah dan PT Angkasa Pura mewujudkannya dalam waktu dekat? Kalau melihat pengelolaan bandara seperti sekarang, sepertinya sulit terwujud. Belum bersatus internasional saja landasan pacu masih sering rusak, apalagi jika bersatus internasional. Pesawat berbadan besar bakal sering 'menghantam' landasan pacu.
    Belum lagi fasilitas penunjang macam taxi way (jalan penghubung antara landasan pacu dengan apron), kapasitas apron, hanggar, terminal penumpang dan lainnya harus standar internasional. Butuh dana yang tidak sedikit. Perbaikan Maret lalu saja menelan biaya Rp 20 miliar apalagi untuk melengkapi fasilitas itu berstandar internasional.
    Bukan untuk melemahkan semangat memberi kenyamanan bagi jemaah umrah dan haji. Bukan pula ingin melemahkan semangat meningkatkan pelayanan pada penumpang pesawat asal Kalsel. Tapi, lihat dulu realitanya, baru melakukan perencanaan. Jangan sampai rencana kurang matang, kemudian semangat yang 'luhur' itu putus di tengah jalan lantaran pengelolaan bandara amburadul. *

Rabu, 20 Januari 2010

2 Peduli, Memedulikan, Kepedulian

     RASA penasaran membuat saya bergegas membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan PT Gramedia Pustaka Utama. Kebetulan kamusnya masih baru, terbitan 2008. Jadi mudah saja menemukan kata yang kita ingin tahu makna atau artinya.
     Saya ingin tahu arti dari kata peduli. Ternyata ada tiga arti, yakni mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan. Kata peduli jika ditambah imbuhan maknanya tak terlalu jauh dari kata dasar peduli.
     Bukan tanpa sebab saya mau tahu artinya. Suatu hari saya berkunjung ke kantor teman. Kantornya tidak terlalu besar. Di dalam ruang ada beberapa orang bekerja di balik layar komputer.
     Kebetulan teman saya masih ada urusan di bagian lain. Sembari menunggu saya duduk di ruang tamu. Tiba-tiba terdengar dering telepon. Suaranya nyaring membelah kesunyian. Tapi tak satu pun dari orang-orang di ruang kerja itu yang mengangkat telepon. Mereka asyik dengan aktivitasnya sendiri Bunyi telepon terus berulang sampi akhirnya mati sendiri.
     Saya pun heran, kenapa tak ada yang peduli untuk mengangkat telepon. Padahal, mungkin saja telepon itu dari klien potensial. Mungkin pula dari bos yang ingin tahu perkembangan pekerjaan. Bisa pula telepon dari salah seorang keluarga yang ingin menyampaikan kabar duka. Begitu banyak kemungkinan. Who's know?
     Mungkin, peduli, kepedulian, memedulikan sudah dianggap angin lalu. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Just ordinary thing, hanya sesuatu yang lumrah.
     Bahaya! Ini sangat berbahaya. Suasana di dalam sebuah kantor itu hanya contoh kecil. Ibarat penyakit kanker mungkin masih stadium I. Bagaimana jika berlanjut jadi semacam kanker stadium IV, akut, parah, tinggal menunggu semaput.
     Contohnya sangat banyak, bisa kita saksikan sehari-hari. Tengok saja tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di bebeberapa sudut jalan. Sampah diangkut sekitar pukul 07.00 Wita. Tunggu saja beberapa jam, TPS sudah terisi sampah dalam jumlah lumayan. Padahal jelas sekali Pemko Banjarmasin punya aturan melarang warga membuang sampah siang hari. Tapi, siapa yang peduli? tidak ada.
     Atau lihat kondisi Pasar Tungging di Jalan Belitung. Dulu hanya beberapa pedagang. Kini jumlahnya lebih 400. Pedagang sudah betah berdagang di sana. Memindah mereka perlu pertimbangan yang sangat matang. Seandainya dulu saat pedagang masih sedikit, Pemko peduli untuk menata, mungkin tidak sulit seperti sekarang.
     Sepertinya memang sepele, tapi efeknya cukup besar jika skala peristiwanya besar. Peduli, memedulikan, kepedulian. Coba anda lakukan, toh tak ada ruginya.

Rabu, 16 Desember 2009

0 People Power

    PADA satu kesempatan tampil di suatu acara di televisi, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan jangan coba-coba melawan arus kekuatan rakyat. Menurut dia, dalam sejarah, orang yang melawan kekuatan rakyat itu digilas. Tidak ada yang selamat.
    Peran rakyat dalam sebuah negara yang menganut paham demokrasi memang sangat vital. Rakyat tidak lagi bisa diabaikan, seperti yang dilakukan para diktator atau negara yang menganut paham demokrasi terpimpin.
    Rakyat adalah salah satu pilar demokrasi yang direpresentasikan melalui lembaga legislatif. Didukung pilar-pilar lain seperti eksekutif, yudikatif dan pers, maka demokrasi dapat berjalan secara elegan.
    Tapi, manakala aspirasi rakyat tersumbat, tak tersalurkan melalui legislatif, rakyat bisa bertindak sendiri. Maka muncul lah gerakan rakyat, people power bahkan revolusi.
    Indonesia punya cukup banyak pengalaman melibatkan kekuatan rakyat baik yang dipolitisir atau muncul karena rakyat ingin melawan kekuasaan absolut.
    Ketika Presiden RI pertama Soekarno mulai membawa Indonesia ke arah demokrasi terpimpin, rakyat dimotori mahasiswa berunjuk rasa. militer pun 'bersimpati' kepada rakyat yang kesusahan. Pada akhirnya Soekarno menyerahkan jabatan kepada Soeharto.
    Demikian pula, saat rakyat tak lagi percaya atas kepemimpinan dan kekuasaan Soeharto selama puluhan tahun, presiden kedua Indonesia ini lengser pada 1998.
    Presiden ketiga Abdurrahman Wahid, merasakan besarnya kekuatan rakyat meskipun dalam skala lebih kecil. Ketika Gus Dur sudah tidak sejalan dengan wakil rakyat, dia pun diturunkan dari jabatannya, diganti Megawati Soekarno Putri.
    Kekuatan rakyat tidak akan pernah mati. Kekuatan ini akan bangkit ketika rakyat merasa ada ketidakberesan pada eksekutif, legislataif dan yudikatif. Apalagi jika didukung pers, kekuatan ini tak terkalahkan.
    Apakah people power dalam skala yang besar kembali berulang di Indonesia? Apalagi rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, ketertindasan dan kebencian atas konspirasi dan kolusi oknum pemerintahan menyatukan rakyat.
    Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi. Harga yang harus dibayar Indonesia untuk gerakan rakyat tidaklah sedikit. Sangat riskan bagi Indonesia harus mengulang peristiwa yang sama dan membuat roda pembangunan terhambat akibat konstelasi politik yang tidak stabil.
    Seharusnya pemerintah bisa belajar dari pendahulunya agar jangan sampai jatuh ke lubang yang sama. Tanda-tanda rakyat tidak puas, tidak percaya dan merasa tidak diperlakukan secara adil itu sudah tampak di hadapan mata.
    Coba lihat tekanan rakyat ke pemerintah ketika pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah menjadi pesakitan, gara-gara dituduh bertindak di luar kewenangan. Dukungan pada keduanya mengalir tiada henti, sampai mereka benar-benar lepas dari masalah.
    Demikian pula ketika seluruh elemen bangsa bersatu memperingati hari antikorupsi sedunia pada 9 Desember lalu. Tekanan  rakyat agar kasus Bank Century diusut juga tak kalah hebat.
    Akumulasi kekesalan dan ketidakpuasan bisa merubah people power menjadi sebuah revolusi. Kita tentu tidak ingin sejarah negeri ini mencatat pergantian kekuasaan harus dengan cara revolusi. Seperti yang dialami Iran saat menjatuhkan rezim Syah Iran, kejatuhan komunis di Uni Soviet atau digulingkankannya Ferdinand Marcos dari pimpinan tertinggi Filipina.
    Harga yang harus dibayar rakyat untuk people power sangat mahal, apalagi harus melalui revolusi. Saatnya pemerintah mendengarkan rakyat.

Selasa, 10 November 2009

2 Habis Kesabaran

         BERBICARA lebih mudah daripada bertindak. Semua orang mungkin mengerti hal ini. Akan lebih baik jika bicara dibarengi tindakan. Hasilnya insya allah bakal lebih baik.
       Ketika bicara sudah sampai tahap 'berbusa-busa' tapi tidak mengerjakan apa yang telah diomongkan tadi, rasanya jadi mubazir. Mulut dan tenggorokan sampai kering tapi perubahan yang diharapkan tidak ada. Sungguh sia-sia.
       Tapi, mudah-mudahan apa yang saya bicarakan lewat tulisan ini tidak sia-sia. Toh, tujuannya baik, demi kepentingan bersama. Bukan untuk kesenangan pribadi, walaupun sedikitnya ada pula terkait diri pribadi saya sebagai anggota kemasyarakat.
       Beberapa hari lalu, rubrik Gen Y yang memuat komentar dari account facebook pembaca Metro Banjar mengangkat tema kondisi persimpangan Jalan Veteran dengan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Pangeran Hidayatullah. Banyak komentar yang mengeluhkan kondisi jalan di kawasan ini.
       Sebagian teman mungkin sudah tahu kondisi lalu lintas kendaraan di kawasan ini. Satu kata paling cocok menggambarkannya adalah semrawut. Di sana ada traffict light dengan waktu jeda antara warna merah dan hijau cukup lama. Dishub dan kepolisian mungkin punya alasan sendiri tentang pengaturannya.
       Tapi yang jadi masalah bukan traffict light (mudah-mudahan). Suatu ketika, saat berangkat menuju tempat kerja, saya berbarengan dengan seorang pria tua berhenti saat lampu merah menyala.
       Sang bapak sangat tidak sabaran. Sebentar-sebentar matanya melihat ke arah traffict light. Sejurus kemudian matanya memandang arlojinya. Sementara mulutnya tiada henti mengeluarkan umpatan betapa lamanya lampu tidak berubah jadi hijau.
       Akhirnya bapak sepuh itu habis kesabaran. Belum lagi lampu lalu lintas berwarna hijau, motornya dipacu menerabas persimpangan jalan yang padat kendaraan itu. Bagai dikomando, sebagianpengendara mengikuti aksi bapak itu. Saat itu saya masih bisa menaha diri tidak ikut-ikutan menerabas.
       Pada kesempatan lain, di tengah terik sinar matahari, kesabaran saya habis. Bagaimana tidak, saya tidak mungkin menunggu lampu berubah jadi hijau wong lampunya padam. Saya juga tidak mungkin menerabas karena di persimpangan jalan itu macet total. Tidak bisa bergerak maju. Ada dua tindakan yang bisa dilakukan, balik kanan atau belok kiri. Saya memilih belok kiri ke Jalan Gatot Subroto.
       Saat kondisi genting macam itu, saya tidak melihat aparat kepolisian. Mungkin mereka sedang mendapat tugas penting di jalan lain. Sepanjang Jalan Gatot Subroto saya lihat barisan mobil lumayan panjang. Saya bisa membayangkan, kejadian ini pasti berawal
dari seorang pengendara menerabas lalu macetlah jalan.
       Kembali ke rubrik Gen Y Metro Banjar tadi, ada seorang memberi komentar cukup menarik. Orang itu bilang mungkin riding attitude urang Banjar yang kelewat hebat. Ada lagi yang bilang karena kita terbiasa menggunakan trasportasi sungai. Apa benar seperti itu? Saya yakin tidak. (*)

Selasa, 23 Juni 2009

12 Permisi Om!

    SUATU sore saya makan di warung tenda di Jalan A Yani. Jalan negara ini sejak kilometer 1 sampai kilometer 6 berubah jadi tempat wisata kuliner. Pilihannya makanan cukup banyak, tinggal mencocokkan dengan selera masing-masing.
    Begitu mau menyantap makanan, dua pemuda masuk ke dalam warung tenda. Salah seorang bertubuh kurus menenteng gitar warna coklat tua ditempeli beragam stiker. Satu lagi posturnya agak gemuk. Jika ada yang meladeni, saya berani bertaruh, kalimat apa yang meluncur dari mulut dua pemuda itu. "Permisi om, bu," kata mereka.     
    Sampai di situ saya masih tidak mempermasalahkan, walaupun saya belum sempat menyuap makanan ke mulut. Tapi ketika petikan gitar bercampur dengan suara dari pemuda bertubuh gemuk, indra dengar terasa gatal. Sungguh (maaf) fals dan saya sama sekali tidak merasa terhibur.
    Belum selesai lagu dinyanyikan, mereka sudah mendekati pengunjung warung sembari menyorongkan topi yang terbalik. semua orang tentu faham maksudnya. Mereka minta kerelaan hati para pengunjung warung untuk memberi barang Rp 500 atau Rp 1.000.
    Baru lima menit dua pengamen itu berlalu, muncul lagi dua pemuda dengan profesi sama. Sekilas saya perhatikan, gitar yang dipakai sama dengan dua pengamen terdahulu.
    Setali tiga uang dengan dua pengamen terdahulu, skill dua pemuda itu bermain gitar atau kemampuan olah vokal mereka sangat jauh dari kata bagus. Sama juga seperti dua pengamen terdahulu, belum lagi lagu selesai dinyanyikan, topi terbalik kembali beredar.
    Malah kalau ditarik garis persamaan, sangat jelas kelihatan. Mereka menjual kenestapaan, kemiskinan, wajah lusuh dan berharap iba orang lain.
    Jadi ingat saat bertugas di Bandung, Jawa Barat, saya diajak teman dari Tribun Jabar menyantap sate di Jalan Asia Afrika. Saat itu kami bertiga didatangi tiga pemuda. Dua di antaranya memegang gitar. Penampilannya bersih, seperti anak gaul. Dengan sopan, mereka minta izin untuk menyanyi.
    Tak berapa lama meluncur suara merdu dari salah seorang mereka diiringi alunan gitar. Lagunya tidak asal-asalan. Mereka membawakan lagu dari band asal Inggris, Muse kalau tidak salah judulnya Falling Away With You. Nikmat sekali rasanya bersantap sembari mendengarkan lagu yang enak. Uang pun dengan mudah keluar dari kantong celana pengunjung tempat makan itu.
    Saya menghayalkan pengamen-pengamen di Banjarmasin bisa seperti pengamen di Bandung. Bandung pernah punya seniman Harry Rusli yang mau mendidik pengamen agar tidak asal cuap. Mungkin di Banua ini juga ada yang bisa seperti Kang Harry. Atau pemko yang mengambil peran? Jangan biarkan mereka hanya menjual kemiskinan. Biar saja orang lain yang menjual kemiskinan. Pengamen bisa menjual skill kok! 

My Blog List

 

Coretan Royan Naimi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates