Tampilkan postingan dengan label coretan royan naimi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan royan naimi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

0 Belajar Jadi Objek

    IKAN bukan sebagai subjek, melainkan hanya sebagai pelengkap. Adapun subjeknya adalah tanaman air itu. Demikianlah prinsipnya seni aquascape. Merupakan salah satu jenis aliran dalam aquaris.   Penonjolan tanaman ini membedakan aquascape dengan dengan akuarium biasa yang mengutamakan ikan. Makin cantik tata letak tanaman air, maka makin indah dan tinggi nilai aquascape. Penataan yang benar dengan sendirinya membuat ikan bisa hidup dan berkembang.
    Konsep aquascape ini mirip dengan kehidupan manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa hidup sendiri. Selain berinteraksi dengan sesamanya, juga memilik realsi dengan makhluk lain, termasuk dengan alam.
    Tapi, sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi, manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Memosisikan diri sebagai subjek, sebagai pihak yang menjadi episentrum semua aktivitas di muka bumi. Sementara makhluk lain adalah objek, bahkan lebih sering jadi objek penderita.  Maka, hampir segala aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya, menjaga stabilitas kewenangannya, berdampak negatif bagi makhluk lain.
    Ketika manusia memerlukan kayu, maka ditebanglah hutan. Sementara upaya menghutankan kembali kalah cepat dibanding gergaji-gergaji berantai yang membabat batang demi batang pohon. Apa pun pola pengelolaan hutannya, jika masih menempatkan manusia sebagai subjek, hasilnya sama dengan hutan habis!
    Saat hutan-hutan diubah menjadi kebun kelapa sawit, para penghuni hutan yang terbiasa dengan rerimbunan pohon  terpaksa beralih menyeruak di antara kebun sawit yang dulunya juga hutan. Babi hutan yang dulunya mencari makan di wilayah hutan terpaksa mengais-ngais di antara akar sawit atau ladang  bikinan manusia.
    Orangutan yang dulunya bergantungan di antara pohon-pohon tinggi, terpaksa berloncatan di pohon-pohon sawit yang rendah. Dan sekali lagi, karena manusia sebagai subjek, maka babi hutan, orangutan dan makhluk-makhluk lain hanya pelengkap. Maka diburu lah sang babi dan dibantai si orangutan atau dibakar hidup-hidup karena dianggap hama.
    Manakala hutan telah habis diganti tambang-tambang batu bara, maka siapa pun tak mampu melawan buldozer atau eksavator yang membuat lubang menganga, mengurangi unzur hara tanah hingga sulit untuk ditanami kembali.
    Seandainya manusia memosisikan diri sebagai objek, apalagi jika mau sebagai objek penderita, tentu bakal merasakan sakitnya diburu, perihnya dibakar hidup-hidup atau sulitnya mencari makan. Manusia merupakan satu-satunya makhluk di dunia yang berhak menyandang predikat khalifah, pemimpin, perwakilan dari Sang Pencipta. Maka jadilah pemimpin yang adil. Sekali-kali rasakan dan belajar jadi objek penderita, jangan selalu jadi subjek. (*)








    

Rabu, 09 Januari 2013

0 Hakekat Arisan

    ENTAH kapan arisan itu bermula. Saya belum pernah membaca referensi mengenai sejarah aktivitas unik ini. Bahkan, Mbah Google pun tak menyimpan arsip mengenai masa lalunya. Boleh jadi, arisan hanya ada di Indonesia sementara di mancanegara.
    Tapi, tetap saja seakan masa lalu arisan, siapa penemunya maupun perkembangannya tiada data sama sekali. Kalau pengertian arisan ada beragam. Bahkan, pengertian cenderung berkembang tergantung aktivitas yang melatarbelakangi dibentuknya arisan atau yang mengiringi.
    Secara umum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arisan adalah kegiatan pengumpulan dana yang ditarik dengan cara diundi atau bergiliran. Perkiraan saya arisan asli produk Indonesia alias made in Indonesia dan made by Indonesian. Alasannya sangat simpel, dalam kamus bahasa Arab belum ada padanan kata arisan. Begitu pula di kamus bahasa Inggris. 
    Tak pernah ada riwayat menyebut aktivitas arisan di negara lain. Bahkan sejak zaman nabi-nabi. Tapi, kalau ditinjau dari sisi muamalahnya, tentu ada kesamaan dengan aktivitas di zaman baheula, yakni sebagai ajang silaturahmi.
    Aktivitas yang identik dengan kaum hawa ini membuatnya sangat dekat dengan rumah dan makanan. Walaupun belakangan, lokasi arisan bisa saja 'migrasi' ke mall dan cafe. Seingat saya dulu sewaktu masih SD, arisan di kompleks tempat tinggal kami melibatkan seluruh anggota keluarga.
    Misal, bulan ini giliran keluarga A jadi tuan rumah. Maka keluarga lainnya di kompleks, ramai-ramai pada hari yang ditentukan mendatangi rumah A. Ketika ibu-ibu berkumpul sembari mengocok nama yang bakal dapat uang arisan, sekaligus jadi tuan rumah pertemuan berikutnya, para bapak juga berkumpul sembari ngobrol ngalor ngidul.
    Adapun bagi anak-anak, arisan merupakan ajang untuk bermain sambil makan makanan yang enak-enak. Samar-samar tersisa ingatan di benak saya bahwa arisan itu menyenangkan. Satu kompleks sangat akrab. Hakekat arisan sebagai ajang silaturahmi benar-benar tercipta.jauh dari sifat individualistis. Tumbuh sifat-sifat sosial karena tercipta interaksi dengan tetangga sehingga menimbulkan kepekaan sosial.
    Sekarang arisan berkembang pesat. Sayang mulai meninggalkan hakekatnya serta nilai-nilai sosialnya. Kegiatan yang beroperasi di luar ekonomi formal ini malah mengedepankan nilai-nilai materialistis dan individualistis. Arisan sudah jarang digelar dari rumah ke rumah. Kadang, siapa yang beruntung namanya keluar dari kocokan pun tak datang. Arisan juga jadi ajang pamer kekayaan.
    Lantas, muncul pula arisan berantai yang menggunakan istilah investasi lalu berkembang menggunakan sarana internet. Padahal, arisan macam ini hanya penipuan gaya baru karena keuntungan didapat oleh orang pertama.
    Ada pula arisan tembak yang mengedepankan bisnis dan keuntungan ketimbang silaturahminya. Paling parah adalah arisan berondong. Konon, pelakunya adalah para ibu-ibu yang 'menggilir' pria muda berwajah tampan. Paling baru tentu saja arisan seks yang dilakukan pelajar, seperti dilakoni pelajar SMA di Situbondo, Jawa Timur.
    Bagaimana pun perkembangannya, dalam benak saya, arisan adalah makan yang enak-enak. Dalam konteks kalimat tersebut, kata 'makan' dan 'enak-enak' terkait dengan makanan sesungguhnya karena arisan yang saya kenal hakekatnya bersilaturahmi. Bukan materi dan kesenangan duniawi. (*)


Foto: kompas.tv

Jumat, 04 Januari 2013

0 Anak SMK Saja Bisa

    ADA dua model mobil yang melegenda di Indonesia. Bahkan, hingga kini masih cukup banyak yang memiliki dan menggunakannya, baik sebagai moda transportasi maupun sekadar hobi. Saking melegendanya, seakan-akan keduanya adalah produk asli Indonesia. Padahal, tetap saja merupakan produk dari negeri raksasa otomotif dunia (Jepang), meskipun dirakit dan dirancang di Indonesia atau suku cadangnya dibuat di Tanah Air. Soalnya, merek yang dipasarkan ya merek perusahaan induknya.
    Pertama adalah Toyota Kijang. Mungkin hampir semua orang tahu model kendaraan niaga dan keluarga bikinan Toyota ini. Tergolong kendaraan paling populer untuk kelas MiniBus di Indonesia. Toyota Kijang mulai beredar di Indonesia medio 1977 dan menjadi salah satu model mobil Toyota primadona di Indonesia. Dengan mudah mobil ini dapat ditemukan di seantero negeri.
    Tak kalah pamor dari Kijang adalah Suzuki Jimny. Mobil ini tak kalah pamor dari Kijang yang sukses dalam memasarkan sampai empat generasi. Jimny 'kabarnya' sanggup memenuhi kebutuhan konsumen di segala medan dengan harga yang ekonomis. Sama seperti Kijang, sejarah Jimny cukup panjang sejak dirintis pada 1968.
    Dan, memang, Toyota atau Suzuki adalah dua merek dagang asal Jepang yang sudah mendunia. Selain dua merek tersebut, masih banyak produk otomotif asal Negeri Matahari Terbit yang  terkenal di dunia. Dua mereka ini hanya sedikit dari contoh kesuksesan industri otomotif Jepang yang mampu bersaing dengan mobil bikina Eropa atau Amerika Serikat.
    Namun, kesuksesan itu diraih melalui perjuangan yang panjang. Pendiri Suzuki, Michio Suzuki merintis usahanya dengan membuat perusahaan tenun sutra. Usaha yang didirkannya mulai 1909 ini terus berkembang hingga memproduksi mobil, sepeda motor dan mesin-mesin. Kini, Suzuki memiliki tempat produksi yang terletak di lebih dari 23 negara.    
    Bagaimana dengan Toyota? Sekadar informasi, merek dagang Toyota bukan diambil dari nama pendiri atau pemilik usaha raksasa otomotif ini. Perusahaan otomotif rata-rata 'suka' menggunakan nama pendiri sebagai merek dagang. Seperti Honda didirikan oleh Soichiro Honda. Merek dagang Ford yang diambil dari nama Henry Ford.
    Pendiri Toyota adalah Sakichi Toyoda, dikenal sebagai penemu sejak usia belasan tahun. Berangkat dari kesederhanaan visi, maka menyebut Toyoda dianggap kurang enak didengar dan tidak akrab dikenal sehingga diubah sedikit menjadi Toyota. Ternyata visi itu sangat jauh ke depan. Merek dagang Toyota menjadi salah satu yang terkenal di dunia.
    Melihat kesuksesan Jepang di industri otomotif memang bikin iri. Lantas, timbul pemikiran kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu? Pemerintah Indonesia era Soeharto pernah merintis mobil nasional melalui merek Timor. Ada pula merek Bimantara. Namun tak ada kelanjutannya.
    Sebenarnya sumber daya manusia negeri ini tak kalah. Mungkin kah regulasi yang tak mendukung? Proyek mobil nasional bisa menjadi arena pencitraan jati diri bangsa. Sama seperti industri pesawat terbang nasional. Bikin pesawat saja mampu, masak bikin mobil tak bisa. Anak SMK saja bisa melakukannya.
 
Foto: androidapps-home.com

Selasa, 01 Januari 2013

0 Menembus Batasan Otak

    OTAK manusia dewasa rata-rata beratnya sekitar 1,5 kilogram dengan ukuran sekitar 1.130 sentimeter kubik untuk perempuan dan 1.260 sentimeter kubik untuk laki-laki. Tapi, ada variasi ukuran tergantung ukuran tubuh.
    Jantung boleh jadi organ yang sangat penting sebagai sentra peredaran darah. Tapi, otak tak kalah istimewa karena menjadi pengendali semua fungsi tubuh manusia. Boleh dibilang, otak merupakan pusat dari aktivitas tubuh.   
    Andai kata, jantung berhenti berdetak selama beberapa menit, seorang manusia masih bisa bertahan hidup. Tapi sebaliknya, jika otak berhenti bekerja satu detik saja, tubuh manusia akan mati.  Makanya, otak disebut organ paling penting dari seluruh organ tubuh manusia. Jika otak sehat, mendorong kesehatan tubuh dan mental. Apabila otak terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental pun bisa kacau.
    Dan, sebagai organ penting, olahraga untuk menjaga kesehatan otak pun tidak seperti olahraga fisik. Biasanya adalah catur, membaca, main game, bermusik atau permainan bridge.  Otak tergolong organ tubuh yang rumit dan kompleks. Ada banyak bagian yang memiliki fungsi berbeda. Misalnya otak tengah. Kabarnya kelompok tertentu percaya otak tengah terkait dengan kemampuan supranatural seperti melihat dengan mata tertutup. Namun, para ilmuwan tidak sependapat karena tidak terbukti secara ilmiah.
    Ada pula otak besar atau istilah ilmiahnya cerebrum, yakni bagian terbesar dari otak manusia. Dibagi jadi dua bagian, yakni otak kanan dan otak kiri. Sampai kini masih jadi perdebatan, mana yang lebih baik digunakan, otak kiri atau otak kanan.
    Kalau dilihat fungsinya, otak kiri berfungsi terkait logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Disebut sebagai pusat intelegensia. Sedangkan otak kanan lebih berfungsi dalam perkembangan emosional. Contohnya, komunikasi, sosialisasi, interaksi, seni dan kreatifitas.
    Dominasi otak kiri bikin manusia pandai menganalisa, memikirkan secara logika, tapi kurang dalam interakasi sosial. Sebaliknya, dominasi otak kanan bikin pandai bergaul tapi sulit belajar hal yang teknis.
    Paling ideal, tentu saja memungsikan otak kiri dan kanan secara imbang. Tapi, menyeimbangkan kinerja kedua belah otak bukan hal yang mudah. Otak bisa menstimulasi pemiliknya untuk bertindak berdasar otak kiri saja, atau otak kanan saja. Akibatnya terjadi batasan-batasan, pengotakan pada diri manusia sendiri.
    Ada kata bijak mengatakan, kita tidak pernah mengetahui batasan terakhir kemampuan, sebelum kita mencoba menembus batasan tertinggi yang pernah dialami.  Banyak peristiwa yang menggambarkan upaya manusia menembus batas pemikiran yang skeptis lalu meraih kesuksesan. Salah satunya adalah Barack Obama. Dia sukses jadi Presiden Amerika Serikat pertama berkulit hitam. Obama menjatuhkan pemikiran, pembatasan bahwa presiden Amerika Serikat selalu berkulit putih.
    Contoh lain adalah lakon para pendiri negeri ini yang sukses membawa bangsa dan negara menjadi merdeka hingga sekarang. Mereka sukses menepikan pemikiran bangsa Indonesia tak bisa berdaulat dan mengurus kehidupannnya sendiri. Tentu saja, setelah melalui perjuangan yang panjang. (*)


Foto: lawyer-brain-injury.com

0 Meniru Adam Khoo

    PINTAR adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Meskipun proses bertambahnya kepintaran dan mengasahnya dilakukan bertahap baik melalui jenjang pendidikan formal maupun informal. Sedikit berbeda dengan kreativitas. Walaupun sama-sama memerlukan proses seperti kepintaran, tapi kreativitas didapat melalui proses yang kreatif. Bahkan ada proses kreatif yang tidak melalui pendidikan formal.
    Walaupun proses lahirnya kemampuan untuk menjadi kreatif masih misteri, paling tidak ada gambaran bahwa orang-orang kreatifi itu berpikir mengunakan otak kanan. Sementara orang-orang pintar itu (siapa saja yang merasa) berpikir menggunakan otak kiri.
    Informasi mengenai otak kiri dan kanan ini dimulai dari penemuan Roger W Sperry pada 1960. Roger W Sperry melakukan penelitian terhadap orang yang mengalami sakit epilepsi. Jika dilakukan pemotongan pada sambungan antara otak kiri dan kanan dia menduga mampu meredakan penyakit epilepsi tersebut.
    Ternyata, Roger W Sperry malah menemukan otak manusia terdiri atas belahan kiri dan kanan dengan fungsi masing-masing. Kiri untuk bahasa (verbal) termasuk kata-kata, logika, matematika, urutan analisis, dan lain- lain. Sedangkan belahan kanan untuk bahasa ( nonverbal yang meliputi kreativitas, irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun, warna, dan lain-lain.
    Mengutip pernyataan Adam Khoo, miliyuner muda asal Singapura, Selama ini, ternyata masyarakat pada umumnya lebih mementingkan analisis, logika, matematika. Jarang sekali memperhatikan atau kurang mengoptimalkan fungsi belahan otak sebelah kanan dalam pembelajaran.
    Mungkin hal seperti ini diadopsi oleh sistem pendidikan negeri ini. Makanya, ketika guru menerangkan di depan kelas, banyak siswa yang bosan atau malah ketiduran. Ada lagi yang melamun, ngerumpi, baca komik menjahili teman atau malah 'memantapkan' kepandaian dalam 'seni' mencoret kertas di buku tulis atau LKS. Hal ini lantaran otak kirinya dipacu bekerja keras sementara otak kanan menganggur.
    Kemampuan otak kanan harus pula dibangkit tapi bukan dengan cara-cara umum seperti yang dijejali ke otak kiri. Proses kreatif harus dipacu dengan tampilan gambar, cerita, gerakan, aktifitas kelas, diskusi, musik, pemutaran film, dan lain-lain.
    Proses kreatif berarti keleluasaan mengembangkan ide-ide dan gagasan secara bebas. Seorang kreatif adalah orang yang berani mengambil risiko. Analogi sederhananya sebagai berikut. Menggunakan sepeda motor memudahkan dibanding jalan kaki. Ini adalah pilihan yang pintar. Namun jika sepeda motor yang digunakan melalui proses merakit sendiri atau dimodifikasi, ini peran otak kanan.
    Akan lebih baik ketika kepandaian otak kiri didukung proses berpikir kreatif otak kanan. Hasilnya adalah karya yang luar biasa. Semoga kita bisa memaksimalkan proses berpikir kedua belah otak masing-masing. Kalaupun tidak, mudah-mudahan anak-anak kita yang mampu melakukannya.
    Adam Khoo saat masih kanak-kanak dikenal sebagai anak bodoh.  Kesukaannya hanya main games dan nonton TV. Tapi melalui proses kreatif belajar yang tidak biasa (tidak umum), ketika SMP, SMA dan kuliah dia menjelma menjadi yang terpandai. (*)

Foto:  kevinfullbuster.blogspot.com

Senin, 31 Desember 2012

0 Menjadi Autis Teknologi

    KOMUNIKASI merupakan proses seseorang atau beberapa orang, satu kelompok, bisa pula organisasi, termasuk di dalamnya masyarakat yang menciptakan serta menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.
    Paling umum komunikasi dilakukan secara verbal atau lisan. Namun, ada kalanya konikasi verbal tak bisa membuat dua pihak mengerti. Mungkin pula ingin agar informasi yang mau disampaikan tidak diketahui orang lain. Maka, digunakanlah komunikasi nonverbal.
    Maka, bahasa isyarat dengan memanfaatkan mimik dan gestur tubuh menjadi sarana penyampaian informasi. Komunikasi nonverbal ini malah lebih tua usianya dibanding komunikasi verbal karena diduga sudah digunakan sejak zaman prasejarah, dan hingga kini masih sering dipakai sebagai pelengkap komunikasi verbal.
    Seiring kemajuan zaman, sarana untuk berkomunikasi pun berkembang. Verbal dan nonverbal tak lagi bisa menampung arus perubahan di bidang informasi. Apalagi verbal dan nonverbal mensyaratkan kedua belah pihak untuk saling berhadapan.
    Kemajuan teknologi membawa komunikasi verbal dan nonverbal ke dalam sarana yang lebih praktis. Berturut-turut muncul sesuai perkembangan zaman, korespondensi melalui surat, telepon, ponsel, SMS, internet yang didalamnya ada email dan instant messaging (IM) dan sosial media.
    Bagi penggemar chatting tentu IM sudah tak asing lagi. Ada banyak macam IM, dan terus berkembang sesuai kebutuhan. Pada era 1990-an hingga akhir 2000-an anak muda kala itu menyenangi berkomunikasi melalui internet relay chatting (IRC). Tak kalah populer adalah Yahoo Messenger yang hingga kini masih banyak penggunanya, serta masih banyak lainnya.
    Sekarang ini, perkembangan IM amat sangat pesat. Penggunaannya semula hanya dapat diakses pengguna komputer. Sekarang ini telah dapat diakses melalui telepon genggam. Dengan kemampuan yang dimiliki telepon genggam untuk mengakses internet, maka para pengguna IM dapat mengakses dunia maya kapan saja dan dimana saja. Lalu, lahir dan booming-lah BlackBerry Messenger (BBM) dan dilanjut oleh WhatsApp.
    Sayang, instant messaging juga berdampak berkurangnya kegiatan sosial penggunanya di dunia nyata. Tak heran kalau beberapa orang berkumpul di loby, mereka asyik BBM-an dengan BlackBerry-nya atau chatting pakai WhatsApp di ponsel cerdas Android miliknya. Seperti penderita autis yang tidak mengenal lingkungannya, hanya dirinya sendiri.
    Teknologi bisa mempermudah sekaligus memilik dampak negatif. Seseorang bisa dengan gampang menjalin hubungan jarak jauh melalui instant messaging dan sosial media. Satu persatu teman lama kembali diajak berkomunikasi. Tak sedikit dapat teman baru. Tapi, ketika seseorang betah berlama-lama di depan komputernya untuk berkomunikasi melalui dunia maya, maka satu persatu teman-temannya di dunia nyata berkurang, bahkan menghilang.
    Masih banyak hal yang indah di luar sana. Tak ada salahnya menyisihkan sedikit waktu untuk kumpul bareng teman, kolega atau keluarga. Perlu diingat, dunia maya tetap saja maya. Bukan dunia nyata. (*)


Foto: carphonewarehouse.com   

Kamis, 27 Desember 2012

0 Balada Negeri Baca

    MEMBACA merupakan salah satu cara mendapatkan informasi selain dengan cara mendengar. Membaca pada hakikatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf.
    Disebut kegiatan fisik karena melibatkan panca indra, terutama mata. Dikatakan kegiatan mental lantaran melibatkan otak, bagian-bagian dari syarafnya bekerja menerjemahkan apa yang diserap oleh mata lalu memunculkan persepsi dan atau menyimpan di dalam memori.
    Saking pentingnya membaca, perintah Allah SWT yang pertama diturunkan kepada Rasulullah SAW dengan perantara Malaikat Jibril adalah membaca."Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq: 1-5).
    Saat ini, sebutan membaca berkembang sangat pesat. Konteksnya tidak lagi pengertian secara harafiah. Meskipun data buta huruf di negeri ini masih lumayan tinggi, tapi sebenarnya Indonesia kaya akan orang yang memiliki kemampuan membaca.
    Ada tiga kelompok orang yang memiliki kemampuan membaca. Pertama pembaca sebenarnya, yakni mereka yang memang suka membaca buku, majalah, koran dan sebagainya.  Kedua, kelompok orang yang memiliki kemampuan membaca garis tangan, membaca kartu bahkan membaca pemikiran orang lain.   Kalau dikaitkan dengan pengertian membaca, kemampuan yang dimiliki orang-orang seperti itu tidak dapat diberi embel-embel membaca. Sebab yang mereka baca bukan tulisan dan huruf-huruf.
   Kelompok ketiga, memiliki kemampuan 'membaca' tapi tidak menambah kata membaca pada aktivitasnya. Meskipun tanpa kata itu, tapi keyakinan tentang apa yang diperkirakannya sangat besar, bahkan lebih condong haqqul yakin benar. Padahal, namanya prediksi bisa saja meleset.
    Masuk kelompok ini adalah peramal cuaca, pengamat politik, pengamat ekonomi, pengamat sosial, komentator olahraga dan lain-lain. Mereka adalah orang-orang yang mumpuni di bidang masing-masing. Memiliki pula kemampuan membaca situasi di bidang yang digelutinya. Kemampuan itu jadi dasar melakukan prediksi ditimpali data-data statistik.
    Perhatikan ketika komentator olahraga berbicara di televisi, seakan-akan tahu segalanya. Sementara para pengamat memosisikan diri sebagai paling benar ketika berdebat. Apalagi jika berbicara mengenai keburukan bangsa ini. Herannya, selalu ada saja yang buruk dari bangsa ini, dan dijadikan bulan-bulanan media untuk dibikin jadi berita utama.
    Timbul pertanyaan di dalam benak, kalau bahan bacaan adalah pemasok data paling utama kepada pembacanya, lantas apa buku yang dibaca oleh kelompok kedua dan ketiga? Pastilah bukan buku komik atau buku esek-esek.(*)

Foto: thegrio.com








































Rabu, 26 Desember 2012

0 Belajar Setia dari Hewan

    NAMA anjing ini Hachiko. Mungkin ia sosok paling pas di era modern ini sebagai penggambaran hewan piaraan paling setia. Kesetiaannya membuat sineas Holywood mendokumentasikan dalam sebuah film komersil berjudul Hachi dibintangi aktor keren Richard Gere.
    Hachiko nyata adanya. Di alun-alun Timur Stasiun Kereta Api Shibuya, Jepang, terdapat patung yang termasyur hingga ke mancanegara. Patung ini bukan sosok seorang pahlawan atau ornamen penghias taman stasiun, melainkan patung Hachiko.
    Patung ini dibuat oleh seorang seniman Ando Takeshi pada 1935 sebagai kenang-kenangan atas kesetiaan Hachiko pada tuannya. Bagi yang pernah menonton filmnya tentu bakal ingat dan trenyuh, betapa seekor anjing bisa begitu setia menunggu tuannya pulang kerja. Tanpa dia tahu sang tuan telah meninggal dunia.  Kesetiaan itu Hachiko bawa sampai mati, setelah selama 9 tahun lebih, berkeliaran di stasiun dan selalu menunggu tuannya tiap pukul 03.00 sore di pintu masuk stasiun.
    Ya, Hachiko hanya satu dari sedikit cerita kesetiaan hewan piaraan pada tuannya. Bagi umat Islam, jauh sebelum Hachiko lahir, ada pula cerita yang dinukilkan dalam kitab suci Alquran yakni kisah Ashabul Kahfi. Bahkan di Alquran ada surah khusus tentang kisah beberapa pemuda beriman dan seekor anjing yang setia yakni Surah Al Kahfi.
    Dengan izin Sang Pencipta, para pemuda beriman ini tertidur di dalam gua selama 309 tahun begitu pualng sang anjing. Diperkirakan mereka hidup pada masa Raja Diqyanus berkuasa di Roma, beberapa ratus tahun sebelum Nabi Isa Al Masih lahir.
    Mereka memilih menyepi dan bersembunyi di gua dari pada hidup di tengah negeri yang dikuasai raja zalim dan penyembah berhala. Anjing yang mengikuti perjuangan para pemuda ini dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang dijamin masuk surga.
    Hubungan antara hewan piaraan adalah hubungan emosional luar biasa dekat. Bukan hubungan antara budak dengan tuannya. Bahkan, tak sedikit orang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan binatang piaraannya. 
    Anjing dan hewan piaraan mengajarkan kepada manusia nilai moral kesetiaan. Kesetiaan yang tanpa pamrih. Berbeda dengan manusia yang kebanyakan mengharap imbalan atas kesetiaannya. Satu hal lagi, manusia juga sangat mudah melepas kesetiaannya lalu berpaling pada yang lain.
    Ada banyak kebaikan yang diajarkan dari membangun hubungan yang baik dengan hewan piaraan menurut Wayne Pacelle, President and Chief Executive Officer dari Humane Society of the United States (HSUS) yang juga seorang penulis  buku, The Bond: Our Kinship with Animals, Our Call to Defend Them.
    Pertama, hewan piaraan membuat tuannya merasa lebih baik, kedua membuat lebih sehat, ketiga membantu menurunkan tingkat stres dan keempat mampu mengusir rasa kesepian. Tiap Presiden Amerika Serikat selalu diberi anjing peliharaan untuk menemani jalan-jalan berolahraga dan sebagainya.
    Jadi, kalau belum mampu untuk memelihara hewan, tak ada salahnya jika berusaha sayang dan peduli pada semua binatang. Termasuk yang menghuni alam liar. Bukan malah memburunya karena dianggap sebagai hama, seperti orangutan. Save Our Orangutan!


Foto: tokyoarchitecture.info

Jumat, 21 Desember 2012

0 Pelaku Baik atau Kejam

    BISNIS itu kejam. Entah dari mana mulanya persepsi mengenai bisnis yang kejam ini. Mungkin, dikaitkan dengan upaya, usaha menggapai sukses dalam berusaha, tapi dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan, tak jarang menjatuhkan orang lain demi kepentingan sendiri.
    Sebenarnya kalau dilihat lebih jauh, bukan bisnis yang mampu berbuat kejam seperti itu, melainkan pelakunya. Manusianya. Bisnis hanya alat atau sarana. Jadi, walaupun bukan di bidang bisnis sekalipun, bakal muncul tokoh antagonis yang rela melakukan apapun demi tergapainya tujuan.
    Kalau bicara soal kejam, dunia politik sebenarnya lebih kejam dari dunia bisnis. Seorang kawan bisa berubah jadi lawan dalam hitungan detik. Politik juga bisa membuat sesuatu yang baik terlihat jelek atau sebaliknya, sesuatu yang buruk tampak baik.
    Tapi, sama seperti dunia bisnis. Politik pun hanya sarana, cuma alat. Pelakunya, yakni si manusiannya lah yang mampu berbuat jahat nan kejam. Akibatnya banyaknya pelaku yang memanfaatkan sarana politik untuk kepentingannya, maka tampak kejamlah dunia politik.
    Akan lebih berbahaya ketika pelaku dunia politik berkolaborasi dengan pelaku bisnis untuk memenangkan kelompok tertentu. Bayangkan, satu pelaku saja, misal pelaku bisnis yang mengggunakan segala cara untuk mencapai sukses (termasuk cara-cara menyimpang), dampaknya sudah sangat negatif. Apalagi jika bekerja sama dengan pelaku dunia politik yang memiliki tujuan sama, dampak negatifnya bukan hanya pada satu dua orang. Bisa berdampak regional bahkan nasional, bahkan dunia.
    Aktivitas bisnis adalah keniscayaan. Sementara politik berada di ranah abu-abu. Namun, pengaruh bisnis pada sendi-sendi kehidupan sangat besar bagi kehidupan ekonomi, sosial dan politik sejarah peradaban umat manusia.
    Kekuatan ekonomi bisa mempengaruhi stabilitas politik suatu negara. Lihat krisis ekonomi yang dialami negara-negara Eropa yang berpengaruh pula pada kondisi politik di sana. Tak jarang, kejatuhan atau kebangkitan rezim penguasa suatu negara juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, kondisi usaha, kondisi bisnis suatu negara.
    Namun, kembali pada pelaku tadi. Pelaku lah yang memegang peran penting apapun dunia yang dijalaninya. Maka, kalau di bidang bisnis jadilah pelaku bisnis yang baik. Di dunia politik jadilah potikus yang baik. Tapi hal seperti itu memang masih dalam impian, dalam tataran ideal.  Toh, baik atau buruk adalah bagian dari kehidupan. Sudah digariskan Sang Pencipta. Tapi, tetap pelaku masih bisa memilih, jadi baik atau jadi kejam. (*)


Foto: berbisnis-tiket-pesawat.com













Rabu, 19 Desember 2012

0 Arti Sebuah Nama

    APALAH arti sebuah nama. Kalimat ini mendunia berkat penyair asal Inggris, William Shakespeare. Dia membuat drama tragedi yang sangat terkenal, Romeo dan Juliet. Dalam salah satu adegan, Romeo menyebutkankan kalimat tersebut.
    Bagi Romeo, nama sudah tak lagi penting. Cintanya ynag begitu besar pada Juliet, melunturkan perbedaan garis keturunan, nama belakang keluarga yang berbeda dan saling bermusuhan. Hal yang sama juga terjadi pada Juliet.
    Tapi, bagi kebanyakan orang nama sangatlah penting. Bahkan, bisa saja lebih penting dari pribadi-pribadinya sendiri. Nama juga perlambang, representasi dari makhluk bernyawa dan benda. Ketika seseorang jadi pusat perhatian, baik dalam kondisi nestafa maupun bahagia, hal pertama yang ingin diketahui khalayak adalah siapa dia (namanya, Red). Baru diikuti keterangan-keterangan tambahan lain macam pekerjaan, alamat, istri, anak dan sebagainya.
    Bahkan, ketika seorang manusia tak lagi bernyawa semisal korban pembunuhan, identitas awal yang dicatat aparat kepolisian adalah namanya. Lebih detail lagi apa nama bin atau bintinya atau nama keluarganya. Kalau mayat tak tak diketahui identitasnya pun masih tetap diberi nama, yakni Mrs X (perempuan) dan Mrs X (lelaki).
    Beberapa orang seringkali tidak mau menyebutkan nama aslinya saat pertama kali berkenalan dengan orang baru. Ada sejumlah perempuan sangat ketakutan jika nama keluarga atau nama orangtua laki-lakinya diketahui lawan jenis yang baru dikenal. Kabarnya takut diguna-gunai. Soal guna-guna memanfaatkan nama klan memang tidak ada pembuktian secara empiris.
    Sementara, beberapa orang bahkan merasa takut dan merasa terancam jika nama aslinya dipublikasikan dengan berbagai macam alasan tentunya. Ada pula orang-orang yang harus mengganti namanya dengan berbagai alasan. Misalnya karena kesan jelek atau kampungan. Sebaliknya, ada yang mengganti nama keren, perkotaan, masa kini dengan nama terdengar lucu di telinga. Namun, yang lebih penting, ada yang harus mengganti nama dan identitasnya karena terlibat tindak kriminal, menjadi saksi penting atau yang terancam jiwanya.
    Umumnya, nama seseorang yang diberikan orangtua kepada anaknya merupakan sebuah harapan dan doa. Paling tidak, dengan nama itu perjalanan hidup sang buah hati sesuai sebagaimana makna sebutan namanya.
    Jadi, ketika muncul pertanyaan "Apalah arti sebuah nama?" Maka jawabannya adalah sangat banyak arti dan manfaat. Seperti pabrikan mobil mewah asal Jerman, BMW memberi nama varian produknya. Dikutip dari id.wikipedia.org, Mobil BMW dinamai dengan sistem penamaan tertentu, biasanya tiga digit angka yang diikuti oleh satu atau dua huruf.
   Angka pertama adalah nomor seri mobil, dua angka berikutnya biasanya melambangkan besarnya kapasitas mesin dalam cc yang dibagi 100. Meski begitu, mobil BMW yang keluar belakangan ini menggunakan 2 nomor belakang sebagai indeks performa. Jadi, siapa bilang nama tak punya arti?

Foto:whimquarterly.com

Selasa, 18 Desember 2012

0 Menulis dengan Hati

    TIAP orang yang bisa menulis, pasti bisa membaca. Wajar saja, di sekolah, pelajaran kedua setelah membaca adalah menulis. Namun, tidak semua orang mampu menulis dan hasil tulisannya disukai orang lain. Maka, orang-orang seperti Stephen King, Bud Garner, JK Rowling atau Andrea Hirata, adalah orang-orang yang punya kelebihan dalam mengolah kata hingga memikat banyak orang untuk membeli karyanya.
    Ya, menulis bukan pekerjaan sepele. Langkah berikutnya setelah seseorang bisa membaca adalah belajar menulis. Jika membaca memerlukan otak untuk mengenal huruf, menyimpannya di dalam memori lalu huruf-huruf dirangkai menjadi kata dan kalimat, maka ketika seseorang menulis, otak bakal bekerja lebih keras. 
    Ada proses kreatif yang merangsang otak bekerja lebih dibanding membaca. Mulai dari proses pencarian ide, membuat kerangka dasar penulisan kemudian menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Sebuah proses yang tak gampang.
    Makanya, Bud Garner, salah seorang penulis buku best seller Chicken Soup Series, mengatakan, betapa menulis punya kelebihan dibanding sekadar membaca atau berbicara. "Ketika kamu bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruang atau sepanjang koridor. Tapi ketika menulis, kata-katamu bergaung sepanjang zaman," kata Garner.
    Tapi, seorang penulis juga manusia (bukan cuma rocker yang manusia), dalam proses kreatif tak luput dari alpa, salah dan khilaf. Sayang, kadang penulis lupa akan kesalahannya, atau malah tak mau tahu punya salah, merasa paling benar.      
    Maka, bermunculan penulis yang membawa kontroversi. Tulisannya menimbulkan polemik berkepanjangan. Bahkan tak jarang memancing emosi kaum, ras dan golongan tertentu. Ujung-ujungnya buku yang ditulis laku keras dengan menjual kontroversi itu. Satu contoh adlaah Salman Rusdi, penulis buku The Satanic Verses.
    Ada pula media abal-abal, yang menjual sensasi ke pembacanya tanpa tahu etika. Demi oplah dan pendapatan, segala cara dihalalkan, hingga mau-maunya 'melacurkan' profesi. Kepada sesama rekan media berani melecehkan, menjatuhkan lantaran tuntutan bisnis. Idialisme pers pun dikubur dalam-dalam di dasar keserakahan dan kepentingan tertentu.
    Penulis yang baik adalah pembaca yang sangat baik. Ibarat belajar, penulis yang baik sudah khatam membaca. Bukan hanya membaca dalam arti sesungguhnya, tapi juga bisa membaca situasi dan kondisi lalu menuangkannya dalam bentuk karya tulisan.
    Jika pecipta sejarah kebanyakan adalah penguasa, maka di tangan penulis, di ujung penanya, sejarah bisa bermula, berakhir atau stagnan. Ini menunjukkan betapa pentingnya profesi penulis. Seperti diungkapkan Imam Al-Ghazali, seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam. Kalau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis. Tapi, menulislah dengan hati. (*)

Foto: Imam Al Gahzali, sumber:  edukasi.kompasiana.com

Rabu, 26 September 2012

0 Mimpi Jadi Model

    KETIKA mau bikin tulisan, sudah jadi kebiasaan saya untuk browsing dulu dibantu Mbah Google. Rasanya tak lengkap tulisan tanpa referensi yang didapat setelah mengulik mesin pencari tercanggih dan terbesar di dunia itu. Ibarat makan nasi tanpa garam.
    Begitu pula ketika mau membuat tulisan ini. Langsung terlintas di benak, kata kunci yang saya pikir tepat untuk mencari bahan bagi tulisan singkat. 'Mimpi jadi model', demikian keyword yang saya pilih.  Dalam bayangan saya, ketika tiga kata itu 'dikasih' kepada Mbah Google, muncul tulisan tentang pengalaman seorang model, entah itu model catwalk, model majalah atau model kalender. Isinya menceritakan hasrat, keinginan, upaya dan mimpi yang mereka pelihara agar terapai sukses sebagai model dengan bayaran tinggi.
    Rupanya prediksi meleset, meskipun tidak jauh-jauh amat dari kata model. Pada halaman pertama Google, pada deretan teratas adalah tulisan dari sebuah situs pemberitaan tentang seorang artis yang menjaga bobot tubuhnya, demi memuluskan mimpinya menjadi model. Tapi bukan sembarang model, selebritas ini ingin jadi model majalah Playboy Amerika Serikat!
    Saya sedikit menggurutu. Kenapa perkiraan bisa meleset? Kenapa yang muncul malah tulisan (menurut saya) yang tidak penting ini? Sesuatu yang saya pikir tak lazim, mimpi jadi model yang memperlihatkan aurat. Hampir semua orang tahu majalah milik Hugh Hefner ini mengeksploitasi tubuh perempuan dengan dalih seni fotografi.
    Dari 10 tulisan yang terindeks di halaman pertama Google, empat diantaranya merupakan tulisan tentang selebritas Tanah Air yang bermimpi ingin jadi model majalah Playboy. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan tentang mimpi jadi model majalah tersebut ratingnya cukup tinggi. Rating tinggi berarti hits atau yang mengklik untuk membaca cukup banyak.
    Walaupun tidak bisa diabaikan pula, pengelola situs-situs yang mengangkat tema tersebut melakukan teknik otimasi pada mesin pencari atau Search Engine Optimization (SEO). Biasanya dilakukan para blogger agar postingan terindeks di halaman depan Google.
    Kembali pada bahasan mimpi jadi model, saat ini ajang pencarian bakat seperti modelling, baik lokal maupun nasional sangatlah banyak. Menunjukkan bahwa menjadi model adalah sesuatu yang sangat menarik. Di Indonesia, menjadi model bak pembuka jalan untuk jadi terkenal lalu melakukan lintas profesi selebritas lainnya macam penyanyi, pemain film atau sinetron.
    Namun, di Indonesia profesi model masih membatasi pelakunya dengan kriteria khusus, yakni kecantikan fisik. Mau tahu rinciannya? Berwajah fotogenik, tubuh tinggi semampai, kalau punya tampang blasteran lebih baik lagi.
    Indonesia belum mengakomodasi bakat yang dimiliki orang-orang seperti Darell Ferhostan, seorang model Adrogyny (seorang model pria tulen didandani sebagai perempuan) Indonesia, yang malang melintang di dunia fashion internasional.
     Kalau model Adrogyny masih susah cari job di Indonesia, apalagi mereka yang tidak memiliki kecantikan fisik seperti yang disyaratkan. Jangankan mimpi jadi model majalah Playboy, mimpi jadi model pun tak ada di benak mereka.

Sumber foto: cartoonized.net



My Blog List

 

Coretan Royan Naimi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates