Senin, 01 Oktober 2012

0 Kesan Mendalam di Otak

    JELANG 1990-an, di kalangan anak yang baru beranjak remaja di Kota Banjarmasin, populer bermacam istilah, singkatan maupun akronim. Biasa dijadikan bahan untuk mengejek teman atau orang lain. Dan, saling berbalas. Saling mengejek mungkin biasa, walaupun sebenarnya juga tak baik dijadikan kebiasaan. Namun, yang jadi masalah ketika bahan untuk mengejek teman itu adalah istilah atau akronim yang berkonotasi buruk.
    Ketika itu tengah populer kata 'Kasus' akronim dari 'Kami Anak Suka Urusan Seks'. Merupakan gambaran bagi mereka yang suka melakukan hubungan terlarang. Parahnya, kata 'Kasus' sering dibawa ke ranah ejek mengejek alias bahapakan ini.
    Uniknya, di kalangan remaja, kata 'Kasus' digunakan untuk mendeskreditkan cewek yang berpotongan rambut pendek. Sebab, beredar kabar, salah satu ciri perempuan 'Anggota Kasus' adalah berambut pendek. Tentu kasihan bagi cewek berambut pendek.
    Saya yakin, bagi remaja perempuan pada masa itu, memilih potongan rambut pendek sama saja 'bunuh diri' jadi bahan ejekan. Bagi yang sudah terlajur, apa boleh buat, dirasakan saja sindiran yang menusuk hati.
    Tapi, tak bisa dipungkiri. Cara-cara seperti itu sangat menjatuhkan martabat seseorang. Dan saya yakin, terbawa sampai usia dewasa. Mungkin bagi remaja saat itu adalah mengasyikkan bisa mengejek orang sedemikian rupa. Tapi mereka tak menyadari efeknya luar biasa dan lama.
    Ini sama dengan menonton film. Baik drama, komedi maupun action, semua meninggalkan kesan. Biarpun banyak film yang kita tonton, bahkan saking banyaknya sampai lupa judulnya, tapi ketika film itu dilihat lagi oleh indera penglihatan, perlahan ingatan Anda mulai merangkai kembali adegan demi adegan yang pernah disaksikan.
    Film merupakan alat propaganda yang efektif untuk menanamkan faham, aliran maupun doktrin. Generasi yang merasakan kepemimpinan Orde Baru pasti masih ingat film G 30S/PKI yang diputar tiap 30 September di TVRI. Bahkan pada awal-awalnya, anak- anak sekolah diwajibkan menonton di bioskop.   
    Setelah Orde Reformasi, film itu tak lagi diputar karena dianggap menimbulkan kontroversi dalam interpretasi sejarah kelam negeri ini. Tapi, meski sudah puluhan tahun berlalu, saya yang pernah menonton film itu masih ingat potongan adegan, terutama ketika seorang perempuan yang digambarkan sebagai anggota PKI menyilet muka seorang jenderal.
    Efeknya lama dan kesan mendalam. Itulah film. Para pembuatnya harus menyadari. Maka, bikinlah film yang bagus agar kesan yang baik tertanam di otak penonton. (*)

0 komentar:

My Blog List

 

Coretan Royan Naimi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates