Senin, 21 Januari 2008

0 Baliho Versus Cuaca


    KITA hidup di zaman serba instan. Hampir semua produk di era milenium ini bisa didapat secara instan. Bagi penyuka kopi, ada kopi instan. Mau minum susu? Susu bubuk instan dengan mudah didapatkan di warung-warung.
    Kalau merasa lapar, bisa makan mi instan. Produk makanan dan buah-buahan dalam kemasan juga bisa disebut produk instan. Jadi, kata instan sudah terikat dengan sosok yang namanya manusia.
    Sebenarnya, tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang produk instan, terutama produk makanan dan minuman. Asalkan jelas batasan kadaluwarsanya, aman untuk dikonsumsi.
    Lain halnya jika konteks kata instan adalah terkait sisi konstruksi bangunan. Misalnya membangun rumah atau jalan. Atau membuat jembatan. Mendirikan baliho bisa pula masuk kategori ini.
    Jika semua jenis bangunan di atas dibuat dan didapat secara instan, hasilnya tentu tidak bisa maksimal. Rumah dan jembatan yang baru dibangun, harus direnovasi ulang karena pondasinya ambruk. Jalan bolong-bolong padahal baru seminggu diaspal. Baliho....baliho tumbang tak kuat menahan angin.
    Khusus baliho, pernahkan ada yang menghitung (tidak termasuk Pemko Banjarmasin, Red) berapa banyak jumlah papan reklame raksasa di kota ini? Dalam keadaan cuaca, buruk, apa ada yang berani berdekatan dengan tiang baliho yang menjulang?
    Saya jadi teringat saat polisi melakukan pengamanan malam Natal akhir tahun lalu. Ketika itu tiba-tiba hujan turun dengan deras disertai angin kencang.
    Aparat yang berjaga buru-buru 'mengamankan' diri. Mereka bukan menghindari hujan. Tapi menjaga jarak dari papan baliho. Wajar saja, karena angin saat itu sangat kencang. Namun malam itu tidak ada baliho yang ambruk.
    Minggu lalu, satu neon box di Jalan A Yani dan satu baliho besar di Jalan Sutoyo S ambruk akibat angin kencang. memang tak ada korban jiwa, hanya sebuah motor rusak. Lebih parah di Banjarbaru, 4 orang terpaksa masuk rumah sakit karena tertimpa baliho roboh.
    Faktor alam tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas peristiwa itu. Manusia juga harus siap mengantisipasi. Hidup dan membuat produk instan bukan berarti kepentingan dan keamanan mayarakat diabaikan.

0 komentar:

My Blog List

 

Coretan Royan Naimi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates