Jumat, 23 November 2007

0 Puisi Jilid II

Dinda

Hapus airmatamu dinda
Jangan kau basahi pipimu yang ranum

Hatiku tak tega menyapa kesedihan

Biarkan angin menerbangkan gundahmu


Aku hadir sebagai takdir

Jadikan pelipur dahaga

Buat hatimu tertawa

Ku tak ingin kau terdera

Hapus air matamu dinda
Aku datang untuk cinta

Banjarmasin, 30 Januari 2007
Pkl. 02.04 Wita


Lentera

Temaram bagai kelam
Seruas cahaya bias di kegelapan
Hanya pijar di dalam pekat
Dikejar, tapi tetap bias

Adakah suluh lain di tengah padang kesunyian ini
Atau hanya dia pijar nan samar-samar
Oh..Lentera, biduk ingin berlabuh
Jauh….jauh dari terpaan gelombang
Lepas dari saputan angin

Lelah sudah melayari telaga warna ini
Rindu…rindu sangat matahari
Menerangi sudut-sudut hati yang membeku
Mekarkan bunga-bunga pewangi kalbu

Tapi jelaga masih menempel di lentera
Dan jemari masih sombong untuk membersihkan kaca
Matahari hanya sebatas angan
Pijar dia meredup sesaat kedipan mata

Banjarmasin, 23 November 2006
Pukul 23.48 Wita


Syukur Kuhaturkan

Bunga telah tumbuh
Bersemi di hamparan permadani hijau
Merah, kuning, ungu
Sejuk tenang

Gelisah sudah ditelan kesenangan
Beku menjadi cairan keniscayaan
Harapan menggunung melapisi gundah
Pasti atau tidak ditinggal jauh di belakang

Kapan fana ini dimulai
Jangan tanya akhir jika masih ingin tertawa
Atau kemudian larut dalam kelupaan
Masa selalu berubah setiap detakan nadi

Awal baik ini tak akan sia-sia
Harus diikat dengan rantai setia
Agar tak putus digerus prasangka
Tak lekang ditelan khilaf

Mungkinkah sama dengan lampau
Yakin dengan cocoknya hati
Janji melangkah bersama
Ternyata dipisahkan garis perbedaan

Semua memang masih samar
Jari masih susah meraba
Kepastian masih sebatas keinginan
Syukur tetap kuhaturkan

Banjarmasin, 30 Januari 2007
Pkl. 01:50 Wita


Wajah Dalam Cermin

Hari ini aku berdiri di depan cermin

Wajah berkeriput tersenyum kecut

Tiada senang, sangat dipaksakan

Ringkih penuh beban

Wajah berkeriput itu tergelak
Entah apa yang ada di benaknya
Mungkin bangga akan kerutan di keningnya
Pertanda hidup sudah dikuasainya

Dia masih tergelak
Namun bulir air mengalir dari matanya
Lalu dia tersedu-sedu
Tak nampak lagi senyum

Apa pula yang membuatnya menghiba
Toh dunia sudah di genggaman
Atau keriput yang jadi persoalan
Bukankah itu wajar seiring usia

Seakan  tahu dirinya ditanya
Wajah  itu mendongak
Romannya berubah angkuh
Tapi bulir air tak bisa berdusta
Ada sepenggal kisah di baliknya

Bukan keriput yang aku tangisi
Wajah dan tubuh ini hanya seonggok tulang dan daging
Dari tanah kembali ke tanah
Aku hanya lupa berkaca
Wajah itu lenyap dari cermin

Banjarmasin, 27 November 2006
Pukul 01.29 Wita


Di Suatu Masa

Di suatu masa ketika manusia tak lagi berbicara
Saat sungai berhenti mengalir ke muara
Muncul raja penghabisan
Memapah tubuh kuyu seorang wanita

Di suatu masa ketika manusia tak lagi bertanya
Bila tanah tak mampu menyembunyikan muka
Sang raja mencucurkan air mata
Menetes di tubuh wanita

Di suatu masa ketika manusia tak lagi berdusta
Waktu langit mulai tak bisa dipercaya
Raja menghiba sebisanya
Tapi wanita tetaplah wanita

Di suatu masa ketika manusia tak lagi menderita
Kala pepohonan malas mengembangkan daunnya
Raja bersujud di depan wanita
Semua sia-sia

Banjarmasin, 1 Desember 2006
Pukul 03.05 Wit
a

0 komentar:

My Blog List

 

Coretan Royan Naimi Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates